Social Icons

twitterfacebook

Pages

Tampilkan postingan dengan label bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bercerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2013

Pendakian Gunung Lawu (3265 MDPL) 8-10 November 2013

Sore itu memang hujan, bersamaan dengan beberapa kesibukan saya dikampus, sebelum bersenang-senang (jalan-jalan) saya sengaja mengejar deadline tugas yang lumayan banyak. Sore itu saya telat sampai terminal Giwangan Jogjakarta, niat hati mau berangkat bersama ke kaki Gunung Lawu, karena kami menggunakan trans Jogja alhasil saya dan satu orang teman, “bang suluh” diajak secara tidak langsung mutar-mutar jogja. Puyeng sih, Jarak tempuh yang harusnya kurang lebih setengah jam dengan sepeda motor tapi menjadi satu setengah jam, sms dan telfon berdatangan dari salah satu panitia pendakian massal gunung lawu bersama Backpacker Indonesia Regional Jogja. Sampai di giwangan jam 6 sore, kami langsung berangkat ada beberapa orang juga yang telat sedangkan yang lain udah berangkat duluan dengan bus yang berbeda. Tujuan kami kali ini ke kota Solo, dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam. Sampai di solo sudah menunggu teman-teman baru saya, ada sekitar 28 orang yang akan ikut dalam pendakian ini. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan bis yang berbeda kearah perbatasan jawa timur dan jawa tengah. Tujuan kami adalah kaki gunung lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Jam 10 malam sampai di Basecamp, warung dimana kami akan mengemas ulang barang bawaan dan logistik ke puncak nanti.
Sesaat sebelum berangkat
Ini pendakian pertama saya di pulau Jawa, gunung Lawu salah satu gunung yang lumayan populer bagi pendaki dengan ketinggian sekitar 3265 MDPL, tidak aktif, memiliki vegetasi tumbuhan yang sangat beragam disepanjang jalur pendakian dan sangat dikeramatkan, tidak heran saat pendakian bukan hanya anak muda yang mendaki tapi warga sekitar bapak-bapak dan ibu-ibu bahkan anak-anak juga ikut mendaki untuk melakukan ziarah.

Sekitar jam 12 malam dengan diawali doa dipintu rimba, kami memulai langkah. Jalur daki sangat jelas dan berbatu tertata rapi. Awal perjalanan jalur ditumbuhi oleh pohon - pohon cemara, karena lebatnya hutan cemara yang tumbuh maka daerah ini dinamai Cemoro Sewu ( Seribu Cemara ). Pendakian dibagi menjadi 4 kelompok, saya dan 6 orang lainnya bergabung di kelompok 3 kami akan melewati 5 pos hingga sampai kepuncak.

Perjalanan ke pos 1 tidak terlalu terjal, saya tidak terlalu mengetahui kondisi kiri dan kanan saya karena hanya ditemani senter dan fokus kedepan, sebelum pos 1 kami sempat istirahat didekat Sumber Air Wesanan, mbah saraf kami memanggilnya dia merupakan ranger kami kali ini, dengan kulkas besar yang dipikulnya serta gentongan sapi yang bergelayutan disisi tasnya mengeluarkan bunyi unik menemani langkah kami malam itu, dikeluarkan lah derijen air kecil dari kulkasnya itu untuk sekedar mengambil air bersih disana.

Jalur pendakian sedikit demi sedikit akan semakin menanjak seiring kita memasuki kawasan hutan. Berjalan kembali kurang lebih 60 menit kita bertemu dengan pos 1. Disini terdapat warung disisi kiri dan kanan jalan tapi karena sudah malam warung ini ga buka. Inilah keunikan dari gunung lawu banyak terdapat warung sepanjang jalur, dan yang paling terkenal adalah Warung Mbok Yem di ketinggian 3100 mdpl yang nanti akan kami cicipi nasi pecelnya, khas mpok Yem dipuncak gunung lawu.

Beranjak dari pos 1 jalur makin curam, dinginnya malam mulai menusuk, kabut juga mulai menghampiri kami diselingi dengan deru angin gunung yang menambah suasana kalau kami sedang berdampingan langsung dengan alam. Jalur kali ini terasa sangat lama, kami beberapa kali istirahat. Mbah saraf pun merelakan kulkasnya dibawa oleh bang suluh saking beratnya track kali ini.

Sekitar 90 menit kita akan sampai di pos 2. Dataran cukup lebar bisa untuk mendirikan tenda dan bermalam tetapi tidak terdapat mata air di pos ini. Jam 4 pagi saya dan kelompok lainnya sampai disini, sebentar lagi mentari akan menyembulkan cahayanya. Kami akan istirahat disini, bergegas mendirikan tenda dan mengeluarkan beberapa logistik untuk memasak sarapan pagi kami. Lembayung matahari terbit sangat indah disela-sela perbukitan sejauh mata memandang, masih lumayan gelap juga. Alangkah terkejut kami ketika pagi Pos 2 tak ubahnya seperti TPA, sampah menumpuk dimana-dimana, katanya pada 1 Suro pendakian sangat ramai, efeknya sebanding dengan banyaknya sampah yang dihasilkan. Lagi-lagi saya teringat, kata-kata salah satu teman, kami sempat kenalan waktu ngetrip ke salah satu daerah di Medan waktu itu, WNA dari Francis yang kerja dimedan dia sangat mengagumi keindahan Indonesia khusus Sumatera, “tapi kalian ga mampu menjaganya, lihat itu sampah berserakan dimana-dimana sangat disayangkan” katanya dengan nada emosi. Di Pos 2 ini ada bangunan untuk istirahat nampak dipenuhi corat-coret tangan jahil, banyak coretan dengan kata-kata “Lestari” tetapi mereka ga sadar tulisan itu malah merusak.

Pos 2

Matahari terbit disisi tenda

Sarapan pagi di Pos 2
Jam 9 pagi kami gerak menuju Pos 3, Selepas pos 2 jalanan akan semakin menanjak dengan kemiringan yang cukup curam, disini fisik dan mental benar benar diuji. Disinilah indahnya pendakian itu ku rasa, bukan berusaha menaklukan puncak yang jauh diatas sana. Tapi bagaimana menaklukkan diri sendiri, disinilah kita merasa kecil sebegitu dasyatnya alam semesta ciptaan Tuhan ini. Tidak ada yang bisa kita sombongkan. Bebatuan yang menanjak membuat kita tahu kemampuan diri sendiri, kapan akan berhenti dan melangkah lagi, kapan kita mengatur nafas, istirahat dan mulai berjalan lagi. Dan semua itu cuman bisa kita rasakan ketika mendaki, banyak orang menganggap ini hobi yang sia-sia. Kalau saya tidak pernah mencoba mungkin saya juga akan mengatakan hal yang sama.

Entah udah berapa lama kami berjalan jam 11.00 kurang kami menjumpai pos 3. Selepas kawasan pos 3, kita akan mendapatkan track yang sangat menanjak, dari sekian jalur menurut kami ini adalah jalur terberat di jalur cemoro sewu, saya dan beberapa teman lainnya banyak istirahat disini selain pemandangannya juga indah. dari jauh kelihatan telaga, sepertinya itu telaga Sarangan. Di jalur ini kita juga akan disuguhi pemandangan beberapa Edelweis nan anggun tumbuh disela-sela bebatuan tebing curam.

Menuju Pos 4

Edelweis disekitar jalur menuju pos 4
Menuju Pos 4 jalur menanjak, merangkak pada batu-batuan dan beberapa jalur dilengkapi pegangan besi untuk mengatur keseimbangan. Pos 4 hanya berupa tempat datar yang sempit yang berada di cerukan tebing batu berwarna putih, tapi pemandangannya sangat indah serasa diatas awan, angin disini juga cukup kencang. Tidak kami lewatkan begitu saja momen ini dengan mengabadikannya dalam jepretan kamera.
Pos 4

Penampakan di Pos 4
Setelah melewati Pos 4 kita sudah berada dilereng yang curam, tidak jauh beda dengan jalur sebelumnya disini juga lumayan berat, perlahan lahan berjalan kita akan keluar dari lingkupan hutan, vegetasi tumbuhan mulai berubah lebih banyak ilalang dan tumbuhan perdu disini, di Pos 5 ada satu warung juga kami memutuskan melanjutkan perjalanan saja, walaupun perut terasa lapar, track bonus mendatar banyak kami jumpai, ini menandakan kami akan segera sampai di sendang drajat. Pemandangan lepas nan indah, nyamannya mata memandang awan bergulung di bawah kaki kita, kota kota bak mainan kecil di hadapan megah semesta raya. Sungguh indah, cuaca sangat mendukung.


 Warung di Pos 5

Menuju Sendang drajat, pemandangannya sangat indah

Amazing...!!!!! Im above the clouds.

Sekitar Jam 3 sore kami di Pos Sendang Drajat, ini tempat untuk kami mendirikan tenda dan bermalam nantinya. Disini terdapat mata air, warung, sebuah goa buatan kecil, dan toilet walaupun dengan keadaan kotor dan tidak terawat. Saya dan teman-teman lain memesan teh hangat dan nasi pecel untuk mengisi perut yang kosong sekalian makan siang walaupun telat. Kami nikmati suguhan makanan dari sepasang suami istri yang lumayan berumur pemilik warung (ga gratis ya hehehe) sembari menunggu kelompok lain datang.

Mendirikan tenda di Sendang Drajat

Semakin sore udara semakin dingin, wajah, tangan dan kakiku serasa beku ketika berwudhu sore itu. Setelah makan malam kami istirahat dan melanjutkan perjalanan menuju puncak lawu esok pagi.

Pagi-pagi warna lembayung keemasan menyembul disisi barat tenda kami, saatnya kami bergegas ke puncak dengan berjalan kurang 60 menit kami sampai di puncak lawu Hargo Dumilah 3265  MDPL . Sudah banyak pendaki dipuncak pagi itu, kami abadikan momen sunrise dipuncak.
 Lembayung keemasan menyembul disisi barat tenda



Hari Pahlawan (10 Nop di puncak Gn. Lawu)


Wajib narsis

Setelah puas berfoto-foto kami lanjutkan sarapan ke warung tertinggi di Pulau Jawa, warung Mbok Yem (3100 MDPL), lalu Hargo Dalem, sebuah petilasan dan makam peninggalan dari Prabu Brawijaya (Raja terakhir Kerajaan Majapahit). Konon disinilah tempat Prabu Brawijaya "Muksa", Menghilang dengan seluruh jasadnya. Lalu diakhiri dengan Rumah Botol, rumah unik karena bahan material untuk membangunnya bukan dari bahan-bahan yang lazim digunakan untuk membangun rumah, rumah unik ini di bangun dari limbah, yaitu limah botol bekas air mineral dan beberapa kaleng bekas minuman yang disusun sedemikian rupa menjadi bentuk rumah. Dan rumah ini bisa dihuni, terlihat dari pintu yang terkunci rapat, dengan gembok yang sudah aus dimakan waktu.


Mpok Yem dan cucunya (bocah termuda pendaki gn. Lawu)

Rumah Botol
Akhirnya tiba saatnya untuk turun, perjalanan kali ini akan kami tempuh dalam waktu 4 jam lebih sampai basecamp di kaki gunung lawu dengan jalur yang sama Cemoro Sewu. Beberapa kali saya mendaki, pulangnya pasti akan semakin akrab dan serasa keluarga sendiri, entah kenapa bisa begitu. Terima Kasih banyak BPI regional Jogja dan teman-teman baru ku yang ga bisa disebutkan satu persatu. Sampai bertemu ditrip selanjutnya.
Kelompok 2 turun gunung



 Jalan pulang

Terima kasih banyak kawan...!!!!





Selasa, 03 September 2013

Kerasnya Hidup Dandelion


Kompleks Candi Arjuna Dieng Plateu Jawa Tengah, sekilas pandang tidak ada yang menarik dari rerumputan yang berada di sisi-sisi candi ini. Tapi kami tertarik ternyata ada beberapa dandelion yang berbentuk bulat, warna putih tapi ringan seperti gumpalan kapas. Dandelion yang bernama latin Taraxacum Officinale,  asli dari tumbuhan ini adalah Eropa dan Asia, namun sudah menyebar ke segala tempat. Di Indonesia dandelion disebut masyarakat sebagai Randa tapak atau jombang. Nama Randa Tapak sendiri biasa digunakan untuk merujuk kepada sebuah tumbuhan yang memiliki "bunga" yang memiliki "bunga-bunga" kecil yang terbang ditiup angin. Yang disebut sebagai bunga dari tumbuhan ini menjadi semacam jam hayati yang secara teratur melepaskan banyak bijinya. Biji-biji ini sesungguhnya adalah buahnya (Wikipedia).

Dandelion bukan lah bunga tetapi bibit baru yang akan tumbuh lagi dan berbunga di berbagai tempat, mereka pasrah tertiup angin tidak ada perasaan takut sama sekali jauh dari pohon induknya dan berpetualang ke tempat baru yang belum tentu bersahabat. Terbawa ke ranting pohon, bebatuan, tebing curam, tanah yang tandus. Apabila nasib berpihak bibit-bibit dandelion baru mendarat di tanah subur cukup air dan mereka tumbuh subur disana, berbunga kuning seperti bunga matahari karena katanya dandelion masih berkerabat dengan bunga matahari atau sejenisnya. Namun apabila nasib tidak berpihak maka takdir mereka harus hidup di bebatuan dan tebing curam kekurangan air dan unsur hara, Dandelion cuman mengharapkan setetes air hujan yang turun untuk hidup. Menjalani hidupnya yang keras penuh tantangan ditempat yang baru, ditempat dimana mereka akhirnya akan berbunga kelak, walaupun hanya disela-sela tebing atau bebatuan. Pada saat kami menikmati alam Dieng beberapa waktu yang lalu, kadang kami menemukan mereka tumbuh ditepi jalanan berbukit kapur disela-sela Pipa Geothermal yang banyak di kawasan Dieng, terlihat indah dengan beberapa rumput dan tanaman perdu bergabung dan memperlihatkan eksotisme tersendiri bagi kami. Sungguh indah…….

Satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Dandelion memang terlihat pasif hanya mengandalkan tiupan angin untuk tumbuh menjadi bunga baru, namun mereka tumbuhan yang tidak takut akan tantangan di dunia baru yang jauh dari pohon induk dan tidak tau apakah mereka akan hidup atau terbang jauh sia-sia. Dunia baru dengan adaptasi baru, menghadapi tantangan sekalipun itu keras, tapi dengan tekad dan kemauan yang keras kita akan hidup dan menyebarkan benih-benih pemikiran yang baru dan menyebarkan keindahan, seperti indahnya Dandelion. Semoga…..

Selasa, 30 April 2013

Jawa...


Jawa…
Pengalaman unik minggu lalu, saat ngambil pakaian di Laundry, namanya siapa “Wito” mbak. Wah namanya kok wito (kayak ga percaya) ga ada nama lain toh…!!! (Sambil bercanda). Dalam hati, mbak ini ga percaya kali saya yang sekeren ini namanya ”Wito’. Lantas saya jawab sambil bercanda, kalau di Sumatera sana nama ini keren banget loh mbak. “Moso ga percaya ah” (dengan logat Jawanya). Saya ketawa aja. :D

Banyak yang heran memang saya dilahirkan dari orang tua asli Padang tapi nama saya identik Jawa. Ceritanya begini, Saya pernah dibesarkan di Lingkungan Jawa dan sempat bisa bahasa jawa. Ya, tepatnya sekitar 18 tahun yang lalu. Ketika orang tua saya di tugaskan mengajar di salah satu Kecamatan di Bengkulu Utara saat itu, di Kecamatan Kuro Tidur. Daerah ini merupakan salah satu tempat tujuan Transmigrasi orang-orang Jawa ke Sumatera, tidak heran nama Kecamatannya saja identik dengan bahasa jawa. Sempat tinggal dan besar disana selama 4 tahun, orang tua saya memutuskan pindah mengajar ke Sumatera Barat lagi. Nah, disana lah saya tumbuh besar dan dewasa, yang awalnya saya bisa bahasa jawa dan terbiasa dengan bahasa Indonesia, berubah dengan bahasa dan budaya minang yang kental. Salah satu alasan kenapa saya di beri nama “Wito” adalah hal tersebut.

Pertama kali ke Jawa...
Tanggal 20 April 2013 akhirnya menginjakkan kaki pertama kali di tanah Jawa, Yogyakarta. Senang, ternyata benar kebanyakan orang bilang, kalau anda takut tersesat ditanah jawa, coba perhatikan, kalau anda ketimur, kebarat, keutara dan keselatan masih ada yang menyapa anda dengan ramah dan hangat, ketahuilah anda masih ditanah Jawa. Benar juga ternyata, masyarakat disini sangat ramah.
Akan banyak cerita indah disini nantinya, semoga…….

Kamis, 07 Februari 2013

Puncak SUMUT 28 Oktober 2012

Ditemani musik Reggae, ga tau tiba-tiba suka aja jenis musik ini, mumpung mood bagus, saya mulai merangkai cerita yang mungkin bisa saya bagi untuk Bloger sekalian, sudah lama ingin posting, tapi ga kesampaian menulis padahal sudah lebih 2 bulan setelah saya melakukan pendakian terakhir  gunung Sinabung. Perjalanan dimulai dari stasiun  SUTRA Simpang Pos medan, penumpang menuju Berastagi tanggal 27 Oktober itu sangat padat lantaran ada "Pesta Rakyat" begitu masyarakat Karo mengungkapkan, banyak masyarakat Karo dari berbagai daerah mudik ke Kampung halaman mereka. Sudah beberapa kali kami ngantri tapi selalu ga ada bangku kosong karna penumpang saling berebutan, saya dan Evil kawan baru yang saya kenal dengan rambut gondrongnya memutuskan naik diatas atap bus bersama kondektur bus dan beberapa laki-laki lainnya. Alhasil rambut panjang Evil tergerai indah akibat hembusan semilir angin di atas atap bus bak artis iklan shampo. Walaupun terkadang harus kucing-kucingan sama Polisi yang razia sepanjang perjalanan dengan menutup atap bus dengan terpal, sehingga ga ketahuan.


                                    
Pajak Berastagi

Setelah 2 jam perjalanan dari medan kami sampai di Berastagi, jalan ke pajak Berastagi naik angkot yang membawa kami ke kaki Gunung Sinabung Lau Kawar, Lau dalam bahasa Karo= air, sungai atau danau, yah danau kecil yang sangat indah yang akan terpampang di depan tenda kami nantinya, sembari menunggu angkot penuh kami sempat beli beberapa logistik makanan kopi ataupun gula di pasar ini. Satu jam perjalanan Berastagi ke Lau Kawar lagi-lagi kami bertengger di atap angkot, beberapa kilometer Lau Kawar gerimis datang menyambut kami. 





Tenda menghadap Lau Kawar nan Cantik


Sampai di Lau Kawar langsung bentangkan tenda dan didirikan pas didepan danau kecil yang indah dengan langit biru keemasan sunset disore itu. Tak kami lewatkan moment itu sedikitpun untuk sekedar mengambil foto keindahan alam ciptaan Tuhan.




Ocan, Saya (Lau Kawar)

Jam 8 malam setelah makan malam semua istirahat bersiap siap  melakukan pendakian, pendakian dimulai jam 11 malam mengingat malam itu sekitar 350 orang berusaha menggapai puncak Sinabung dengan tujuan yang sama memperingati sumpah pemuda, kami start duluan.

Setelah melapor pada petugas jaga / Tim SAR dan membayar uang Retribusi kami langsung berangkat untuk melakukan pendakian. Pertama tama kami melewati areal ladang sayuran sampai akhirnya tiba di Pintu Hutan Rimba. Dari sini track berikutnya adalah belantara tropis yang cukup segar dengan jalur setapak meliuk dengan tanah berlumpur yang langsung menuju puncak Gunung Sinabung.

Terdapat beberapa Shelter / Pos peristirahatan. Di Shelter / Pos peristirahatan ini memang tidak ada bangunan permanent yg dapat kita gunakan untuk berteduh dari hujan disaat musim penghujan (disarankan  membawa perlengkapan seperti Plonco / Raincoat / Tenda) Di sini pendaki dapat beristirahat melepas lelah sambil melihat pemandangan lepas ke bawah.
Akhirnya kami sampai di Shelter terakhir yg biasa digunakan untuk berisitirahat ada sebuah mata air yg biasa disebut Pos Pandan. Kami mengambil air secukupnya dengan kondisi yg cukup jernih. Kami beristirahat cukup lama di Pos Pandan untuk memulihkan stamina dan makan logistic yg dibawa karena setelah pos ini kita akan mulai memasuki trek bebatuan yg memiliki tingkat kecuraman sekitar 45 drajat, berhati-hati lah di cadas ini karena disini tidak banyak tempat untuk beristirahat.
Sesampainya di Puncak kita dapat memandang hamparan hutan di bawah dan apabila cuaca cerah disebelah Timur kita akan dapat melihat Bentangan Danau Toba, sedangkan sebelah Barat kita akan menyaksikan danau Lau Kawar beserta barisan hutan yg masih lebat ditumbuhi pepohonan. Kami sangat beruntung pagi itu kami di suguhi sunrise yang menakjubkan cuaca cerah seakan diatas awan karena disisi kiri dan kanan berarak awan di ketinggian sekitar 2467 Mdpl. 
Upacara memperingati sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 2012 pun dimulai dengan hidmat. Setelah upacara selesai dan merasa sudah cukup untuk mengambil Foto ataupun menikmati pemandangan di puncak kami turun dengan jarak tempuh yang lebih singkat. Dan bersiap-siap kembali lagi ke Medan. Pengalaman yang sangat menarik.


Cadas


Sunrise di 2467 Mdpl

2467 Mdpl

Upacara peringatan sumpah pemuda

mantap

Rabu, 09 Mei 2012

Hati-hati di DPR Kalau Hujan, Petir dan Badai Melanda Medan


Kota Medan dan sekitarnya, Selasa petang, dilanda hujan badai, sehingga mengakibatkan banyak pohon, baliho tumbang, dan atap rumah warga rusak. Fenomena alam yang terjadi sekitar pukul 17.30 WIB sempat membuat cemas sejumlah warga.
Di Jalan Djamin Ginting, sebuah pohon berukuran besar juga tumbang di sekitar Jalan Patimura Medan, sehingga mengakibat ratusan kendaraan bermotor terjebak antrean panjang. Hujan badai disertai petir telah pula mengakibatkan puluhan baliho dan papan reklame rusak. Di Jalan Monginsidi, sebuah baliho berukuran besar di depan toko penjualan telepon selular tumbang dan menimpa pagar di sekitarnya.
Selain itu, sebuah baliho berukuran besar juga tumbang di sekitar gerbang kampus Universitas Sumatera Utara (USU) Jalan Dr Mansyur Medan. Pada saat fenomena alam itu terjadi, listrik di sebagian besar wilayah kota itu padam. (Berita dari ANTARA dan Republika Online)
Kejadian hujan, badai serta petir memang lumayan dasyat malam tadi. Sehingga tak heran lampu dikosan padam beberapa saat. Pemberitaan disana sini pohon dan papan reklame yang tumbang serta kemacetan parah akibat lampu merah dan lampu jalan yang mati. Memang ga usah heran kalau lampu merah mati terjadi kemacetan parah, di Medan mulai dari supir angkot, becak, pengendara motor (kereta/kalau dimedan motor dibilang kereta), maupun pengendara mobil berlomba-lomba menerobos lampu merah, tindakan tersebut terkadang merugikan pengendara lain mengakibatkan macet, bayangkan apabila lampu merahnya mati, lampunya hidup pun udah saling terobos. Dan ga heran lagi kalau pelajaran etika yang baik dan benar tidak berlaku sama sekali kalau udah dijalan. Wah, baru sadar ni kok tiba-tiba curhat tentang kondisi jalanan kota medan sih…??kembali ke topik awal…hehe
Sebegitu dasyat badai malam tadi ternyata dibeberapa lokasi di Universitas Sumatera Utara juga terlihat pohon-pohon besar yang roboh, apalagi usu yang terkenal sebagai kawasan dengan pohon-pohon yang rimbun dan hijau. Jadi ga salah dibeberapa Fakultas, DPR merupakan tempat yang paling nyaman untuk duduk-duduk santai, baca ataupun sekedar bercerita bersama teman-teman disela-sela kesibukan kuliah. DPR (Dibawah Pohon Rindang), bukan gedung DPR yang di Senayan sana ya…hehe
  Dari pengamatan saya, pohon tumbang terjadi di sekitar teknik kimia dan teknik sipil tepatnya digerbang masuk Warung Netral (warnet), gerbang masuk USU dari Kampung Susuk. Dan yang paling dasyat menurut saya adalah tumbangnya pohon yang ada disekitar lapangan futsal FKM USU, bukan karna ada atau tidaknya korban jiwa, atau kerugian lainnya. Namun kejadian tepat setelah lapangan Futsal ini beberapa hari selesai direnovasi. Memang pohon nya lumayan tinggi, rimbun dan umurnya bisa dibilang tua dengan batang-batangnya yang mulai rapuh, selasa malam roboh dan sekaligus merusak sebagian lapangan yang sudah direnovasi. Selain itu terlihat di sudut kiri lapangan semen yang retak dan pecah akibat bongkahan akar pohon yang keluar dari tanah. Dan akhirnya Liga Futsal yang tertunda dua bulan yang lalu, akan ditunda lagi akibat kejadian ini…… .




Jumat, 23 Maret 2012

Salahkah Waktu....?

Skala waktu merupakan ukuran interval antara suatu kejadian dengan kejadian. Ada yang mendefenisikan waktu adalah uang. Waktu adalah pedang. Waktu adalah ilusi. Sangat banyak orang mendefenisikan waktu menurut perspektif mereka masing-masing. 

Terlepas dari berbagai defenisi waktu tadi yang paling sering adalah kita selalu menyalahkan waktu.  Waktu selalu menjadi kambing hitam atas semua masalah yang kita alami. Waktu menjadi pelengkap atas seribu alasan atas semua kejadian yang kita alami dan terkadang kita merasa waktu yang tersedia 24 jam per hari ini begitu sangat tidak cukup.

Dan sekarang itulah yang saya alami. Saya tergugah untuk menulis sedikit pengalaman yang saya alami akhir-akhir ini. Beberapa bulan yang lalu saya menyempatkan diri untuk bergabung pada suatu kegiatan yang diselenggarakan salah satu Paguyuban yang merupakan organisasi yang didalamnya tergabung sejumlah mahasiswa penerima beasiswa, kegiatan yang sangat mulia yang mencoba menyelenggarakan bimbingan belajar cuma-cuma bagi siswa-siswa SMA yang berprestasi, punya kemauan untuk belajar dan tidak mampu secara ekonomi. Saya menerima tawaran untuk mengajar salah satu mata pelajaran dikegiatan ini. Awalnya masalah waktulah yang menjadi pertimbangan saya waktu itu, ada ketidakpercayaan diri apakah saya mampu membagi waktu antara tugas-tugas kuliah nantinya, mengingat saat ini saya akan melakukan penelitian untuk memenuhi tugas akhir kelulusan yang merupakan suatu kewajiban yang harus dikerjakan diakhir perkuliahan ini. Akhirnya muncul keyakinan saya memutuskan begabung dalam kegiatan ini. Saya sengaja memilih beberapa topik saja, berbagi tugas dengan teman lainnya, karena saya sadar dan ada ketakutan sendiri apabila tidak mampu meluangkan waktu atas semua kesibukan-kesibukan.


Kegiatan ini mulai berjalan, awalnya tidak ada masalah berarti semua berjalan lancar, begitu juga saya bisa meluangkan waktu untuk bisa datang dan hadir mengajar peserta bimbingan. Sampai pada waktu dimana akhir-akhir ini terjadi masalah pada kegiatan ini, banyak pengajar yang tidak bisa datang untuk mengajar dan lari dari komitmen mereka sebelumnya, dan lagi-lagi masalah waktu, sibuk dengan kuliah, lab/praktikum atau segala macam bentuk kegiatan akademis serta rutinitas yang memang menjadi kewajiban pokok seorang mahasiwa. Sehingga, membuat kegiatan ini pincang dan mulai membuat panik semua yang terlibat dalam kegiatan ini, terutama panitia yang merasa memiliki tanggung jawab lebih atas kegiatan tersebut.

Mengingat masalah yang kami alami saat ini, ada salah satu cerita yang menurut saya sangat-sangat inspiratif tentang waktu, yang membuat kita bisa termenung sebentar dan mulai berpikir. Silahkan baca….

Ada seorang ayah setelah pulang dari kantor hari sudah larut malam, dengan perasaan sangat lelah dan kesal sekali dia masuk ke dalam rumah, dia menemukan anaknya yang baru berusia lima tahun duduk bersandar di atas kursi sedang menunggunya.
“Ayah, apakah saya boleh mengajukan satu pertanyaan?” tanya anak itu penuh harap.
“Tentu saja boleh, apa yang ingin kau tanyakan?” balas sang ayah.
“Mmm…..Berapa upah ayah bekerja setiap jamnya?”
“Wah, masalah seperti ini tidak perlu dipertanyakan. Mengapa tiba-tiba menanyakan hal ini?” Ayahnya menjawab dengan nada sedikit gusar.
“Ayah, saya hanya ingin mengetahui, berapa upah Ayah per jam? Tolong beritahu saya…”
Dengan nada suara yang agak gemetaran anak tersebut memohon dengan sangat.
“Baiklah! Kalau kamu merasa harus mengetahuinya, upah ayah setiap jamnya lima puluh ribu rupiah.”
“Uhh….” Anak kecil tersebut menundukkan kepala dan berpikir sejenak, kemudian melanjutkan berkata, “Ayah, bolehkah saya meminjam uang sebesar lima puluh ribu rupiah?”
Kesabaran ayah anak itu telah habis, dengan nada keras dia menegur, “Jika kamu menanyakan persoalan ini hanya ingin meminjam uang untuk membeli mainan atau benda lain yang sama sekali tidak ada gunanya itu, maka sebaiknya kamu sekarang segera kembali ke kamar! Coba pikirkan mengapa kamu hanya mementingkan diri sendiri.  Ayah setiap hari bekerja lembur dengan susah payah untuk memberikan nafkah kepada kalian, tidak ada waktu yang berlebihan untuk permainan semacam ini!”
Akhirnya dengan tertunduk lesu anak tersebut masuk ke dalam kamar tidurnya dan menutup pintu kamar.
Setelah duduk di atas kursi, si Ayah memikirkan kembali pertanyaan anaknya, semakin dipikir semakin menjadi jengkel.
“Beraninya dia menanyakan hal tersebut hanya demi meminjam uang?” Dalam hati ayah tersebut terus berpikir.
Namun lewat satu jam kemudian, pada akhirnya si Ayah bisa menenangkan diri. Dia mulai berpikir, “Mungkin sikap saya terlalu keras terhadap anak itu, atau mungkin dia seharusnya menggunakan uang lima puluh ribu tersebut untuk membelikan barang yang benar-benar dia inginkan, agar tidak sering-sering lagi minta uang kepadaku.”
Karena itu sang ayah pergi ke kamar anaknya dan mengetuk pintu kamar sambil bertanya, “Anakku, apakah kamu sudah tidur?”
“Belum, Ayah. Saya masih terjaga……” sahut anak itu lirih.
“Ayah baru saja berpikir, mungkin ayah terlalu keras terhadapmu….” Ayah tersebut melanjutkan berkata, “Maafkan Ayah yang telah meluapkan kekesalan dalam hati! Ini Ayah berikan uang yang kau kehendaki……” kata si Ayah sambil menyodorkan uang itu pada anaknya.
Dengan tersenyum simpul anak tersebut duduk di atas ranjang sambil berteriak girang, “Terima kasih ayah!”. Anak itu lalu mengeluarkan uang kertas yang sudah lusuh serta uang receh dari bawah bantalnya.
Si Ayah yang melihat anaknya telah memiliki uang sebesar itu, dan masih juga meminta uang kepadanya, hampir membuat kejengkelannya meluap lagi.
Dengan hati-hati anak itu menghitung uangnya, “Seribu, sepuluh ribu, dua puluh lima ribu, empat puluh ribu…… lima puluh ribu……” gumamnya menghitung uang receh yang dia miliki. Ketika genap seratus ribu, dengan mata berbinar dia memandang ke ayahnya.
Baru saja ingin mengatakan sesuatu, si Ayah sudah tidak bisa menahan kejengkelannya, dengan nada gusar dia bertanya, “Kamu telah mempunyai uang sebanyak itu, mengapa masih juga meminta lagi?”
“Karena…uang saya…….tak mencukupi….tetapi…. tapi….. sekarang sudah mencukupi…..”
Dengan terbata-bata anak tersebut melanjutkan perkataannya, “Ayah, sekarang saya sudah mempunyai uang sebanyak seratus ribu, bolehkah saya membeli waktu Ayah selama dua jam? Karena besok saya sangat ingin sekali makan malam bersama ayah……”
Mata jernih anak tersebut berlinangan air mata, sedangkan di dalam hati sang ayah penuh dengan penyesalan.
Ini menjadi bahan renungan bagi kita sebegitu susahkah kita melungkan sedikit waktu bagi orang-orang terdekat, meluangkan sedikit waktu untuk komitmen yang memang telah kita putuskan sebelumnya. Termasuk apa yang saya dan teman-teman yang tergabung dalam kegiatan sekarang kami lakukan.
Sekalipun itu sederhana, dengan berusaha meluangkan waktu  dalam kesibukan dan kesempitan. Namun ternyata disanalah letak ketulusan dan rasa ikhlas kita dalam melakukan kegiatan apapun setiap harinya. Mungkin sudah biasa bagi kita untuk bisa meluangkan waktu ketika libur datang atau terbebas dari berbagai tugas-tugas kuliah, atau long weekend dan sejenisnya. Namun begitu luar biasalah kiranya kita bisa meluangkan waktu disela-sela kesibukan yang kita alami untuk hal-hal yang positif, yang kita senangi serta untuk orang-orang yang terdekat walaupun hanya sejenak saja, sebagai wujud atas ketulusan dan keikhlasan kita menjalani hal-hal tersebut.


Rabu, 15 Februari 2012

Touch My Heart - Mengenal kepribadian anak menurut golongan darah

Wow, saya mendapatkan sedikit pencerahan bagaimana untuk memahami kepribadian dan temperamen orang lain, walaupun baru sekilas membaca buku tentang hubungan golongan darah dengan kepribadian dan temperamen. Ini ilmiah dan hasil riset bukan suatu ramalan, menurut saya ini sangat-sangat objektif dan rasional. Buku hasil riset di Jepang oleh Toshitaka Nomi yang mengadakan berbagai riset tentang  golongan darah yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Holy Setyowati yang berjudul “Touch My Heart, mengenal kepribadian anak menurut Golongan Darah.” Buku yang secara tidak sengaja saya temukan pada saat mencari buku di perpustakan pusat di Universitas pada saat ini saya menempuh pendidikan. Di sela-sela rak buku dilantai tiga yang merupakan salah satu sudut kumpulan buku-buku tentang kesehatan, kedokteran, farmasi dan psikologi.

Penggolongan darah yang selama ini kita ketahui, yaitu golongan darah O, golongan darah A, golongan darah B, dan golongan darah AB ternyata membawa sifat atau membawa karakteristik tertentu pada seseorang.

Dikatakan bahwa seorang bergolongan darah O memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya, serta suka mengatakan ha-hal yang romantis.

Seorang bergolongan darah A yang sangat menghargai aturan, dan dapat mengotrol emosi serta keinginannya.

Seorang bergolongan darah B yang berfikir secara fleksibel, serta mudah membuka hati untuk orang lain.

Seorang bergolongan darah AB yang memiliki pemikiran rasional, serta senang melayani.

Menurut buku ini Golongan Darah tertentu memberikan pola kepribadian tertentu sesuai Golongan Darah yang mereka miliki. Dan saya sangat tertarik dengan kutipan yang saya ambil dari pengantar yang ditulis penerjemah, “ setelah membaca buku ini saya mulai mengerti lebih banyak akan pentingnnya pemahaman atas golongan darah dalam kehidupan sehari-hari, entah itu untuk hubungan persahabatan, hubungan suami istri, hubungan orang tua anak, hubungan dengan rekan kerja, hubungan guru murid, dan lain sebagainya. Banyak sekali terjadi kesalahpahaman di antara yang satu dengan yang lainya karena adanya perbedaan temperamen manusia. Dengan memahami orang lewat golongan darahnya. Saya yakin akan terjadi perubahan dalam hubungan antar manusia. Sejak memahami akan hal itu maka saya menjadi lebih mengerti orang lain. Saya bisa mengerti kenapa ada orang-orang yang suka memuji-muji orang lain dengan bebasnya. Kenapa ada orang yang suka menyendiri, tidak suka bersosialisasi, dan kenapa orang cenderung mencari perhatian secara berlebihan. Seandainya saya tidak mengerti akan perbedaan karakteristik oleh karena golongan darah, mungkin sampai hari ini saya masih akan terus menghakimi.”

Saya berusaha membuktikan dengan menanyakan dan menebak Golongan Darah berdasarkan pola kepribadian yang ada dibuku ini, yang kebetulan teman dekat dan lumayan tau tentang kepribadiannya. Dan hasilnya sungguh mencengangkan sekitar 85% saya mampu menebak golongan darahnya. Namun satu hal yang bisa kita ambil adalah dengan mengetahui golongan darah kita bisa memahami perbedaan kepribadian dan temperamen orang lain, dan mengatasi cara bagaimana memperlakukan orang lain berdasarkan kepribadiannya.

Yang berminat silahkan baca bukunya, saya bukan ahlinya dan hanya sedikit berbagi cerita, mudah-mudahan bermanfaat Jv

Kamis, 26 Januari 2012

Berbagi Kisah dan Cerita

Kisah, merupakan sebuah media pembelajaran bagi siapapun yang mengalami ataupun mengetahuinya. Ia mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk men-sugesti orang untuk berubah sesuai dengan kisah atau cerita yang dialaminya
Kekuatan Men-sugesti yang saya maksud, antara lain :
• Membuat orang terpengaruh tanpa sadar telah dipengaruhi,
• Membuat orang mengerti tanpa merasa digurui,
• Membuat orang belajar tanpa merasakan adanya paksaan.

Atas dasar itulah saya bermaksud untuk berbagi kisah-kisah, dengan harapan kita dapat belajar dan mengambil hikmahnya. Awalnya saya tidak tau mau mengisi tentang apa blog ini, satu hal yang terbersit dari pikiran ini adalah kenapa ga share aja?, bercerita apapun yang telah saya alami, selama itu positif tentu banyak hikmah yang di dapat. Selain itu, saya terinspirasi dari beberapa blog teman-teman, mereka berusaha menulis apapun yang menurut saya sangat inspiratif secara tidak sadar dipengaruhi tanpa paksaan atau perasaan menggurui. Sekali lagi, selagi semua positif, mungkin bisa menjadi amalan, minimal berbagi cerita dan kisah sederhana namun bisa menjadi sumber pembelajaran.

Happy Blogging…

Selasa, 24 Januari 2012

Di Balik Rimba Hijau Tak Terjamah, Air Terjun Palangai Gadang


Berawal dari rasa suntuk, teringat air terjun Pelangai Gadang yang sudah lama tak saya kunjungi, kesempatan datang ketika saya pulang kampung pada saat libur semester genap tahun 2011. Pada saat itu bersama dua sahabat saya, keduanya merupakan teman satu kampung, satu SMA, dan satu universitas. Tepatnya tanggal 9 juli 2011. Setelah ngumpul kami langsung menuju TKP, sekitar 10km dari rumah menembus lebatnya pepohonan hutan bukit barisan dan ladang–ladang masyarakat. 


Air terjun Pelangai Gadang ini terletak di Kenagarian Pelangai,Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan.Air terjun yang berketinggian sekitar 35 meter ini sangat bersih dan sejuk. Alamnya yang masih terjaga membuat air terjun ini masih asri, Alam yang damai ini masih banyak di huni oleh berbagai jenis burung, dan gemercik air ditambah suara-suara serangga hutan yang berderik membuat suasana harmoni alam yang begitu menenangkan pikiran.

Air terjun pelangai gadang ini adalah air terjun yang terindah dikala saat sinar matahari menerpanya,ada bias pelangi mengitari air terjun ini.Suatu pemandangan yang tidak dapat di temui di tempat lain. Air terjun yang berlubuk agak kecil ini sangat cocok untuk mandi,airnya yang tidak begitu besar mempunyai nuansa tersendiri mandi dengan gemercik air yang jatuh.

Jika anda ingin melihatnya lebih dekat,datang saja ke Balai Selasa,kira-kira 140 km dari Padang. Setelah itu anda belok kiri arah simpang SMA 1 Ranah Pesisir terus jalan kira-kira 3 km
anda akan sampai di air terjun orang ranah pesisir ini. Sekitar 10 menit dari SMA 1 Ranah pesisir, tentunya apabila jalan menuju ke Air terjun ini dalam kondisi kering, ketika kami kesana sepeda motor masih bisa masuk melalui jalan setapak, sekitar 5 menit kami sampai di air terjun yang indah ini.


Perjalanan saya saat itu serasa flashback beberapa tahun lalu, mengingatkan masa-masa SMA karena jalan sebelum sampai ke Air Terjun ini melewati SMA 1 Ranah Pesisir, mengingatkan kepada 27 sahabat saya yang sekarang berjuang dan berpencar-pencar menggapai cita-citanya. Mereka semua merupakan sahabat satu kelas selama tiga tahun, Ya, kami tak pernah pindah kelas dari kelas 1 sampai kelas 3, bukan perasaan bosan yang muncul, malahan kami semakin dekat,akrab, merasa satu keluarga dan sungguh banyak kenangan yang tak terlupakan. Kebetulan seminggu sebelum Ujian Nasional pada saat itu, tahun 2008 saya dan 12 sahabatku yang lain, para pejantan tangguh semua setelah ujian praktek olahraga waktu itu mencoba melepas penat sebelum bejuang di UN di akhir-akhir kebersamaan kami waktu itu.

Tapi sayang air terjun yang indah ini belum dikelola dengan baik sebagai salah satu destinasi wisata di kabupaten Pesisir Selatan. Padahal potensinya sangat bagus sekali sebagai salah satu tujuan wisata, selain pantai-pantai yang indah di Pesisir Selatan. Mudah-mudahan Air terjun ini akan selalu terlindungi, selalu asri sehingga keindahan selalu terjaga untuk bisa dikunjungi lagi suatu saat nanti.
 

Total Pageviews