Social Icons

twitterfacebook

Pages

Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2013

Pendakian Gunung Lawu (3265 MDPL) 8-10 November 2013

Sore itu memang hujan, bersamaan dengan beberapa kesibukan saya dikampus, sebelum bersenang-senang (jalan-jalan) saya sengaja mengejar deadline tugas yang lumayan banyak. Sore itu saya telat sampai terminal Giwangan Jogjakarta, niat hati mau berangkat bersama ke kaki Gunung Lawu, karena kami menggunakan trans Jogja alhasil saya dan satu orang teman, “bang suluh” diajak secara tidak langsung mutar-mutar jogja. Puyeng sih, Jarak tempuh yang harusnya kurang lebih setengah jam dengan sepeda motor tapi menjadi satu setengah jam, sms dan telfon berdatangan dari salah satu panitia pendakian massal gunung lawu bersama Backpacker Indonesia Regional Jogja. Sampai di giwangan jam 6 sore, kami langsung berangkat ada beberapa orang juga yang telat sedangkan yang lain udah berangkat duluan dengan bus yang berbeda. Tujuan kami kali ini ke kota Solo, dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam. Sampai di solo sudah menunggu teman-teman baru saya, ada sekitar 28 orang yang akan ikut dalam pendakian ini. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan bis yang berbeda kearah perbatasan jawa timur dan jawa tengah. Tujuan kami adalah kaki gunung lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Jam 10 malam sampai di Basecamp, warung dimana kami akan mengemas ulang barang bawaan dan logistik ke puncak nanti.
Sesaat sebelum berangkat
Ini pendakian pertama saya di pulau Jawa, gunung Lawu salah satu gunung yang lumayan populer bagi pendaki dengan ketinggian sekitar 3265 MDPL, tidak aktif, memiliki vegetasi tumbuhan yang sangat beragam disepanjang jalur pendakian dan sangat dikeramatkan, tidak heran saat pendakian bukan hanya anak muda yang mendaki tapi warga sekitar bapak-bapak dan ibu-ibu bahkan anak-anak juga ikut mendaki untuk melakukan ziarah.

Sekitar jam 12 malam dengan diawali doa dipintu rimba, kami memulai langkah. Jalur daki sangat jelas dan berbatu tertata rapi. Awal perjalanan jalur ditumbuhi oleh pohon - pohon cemara, karena lebatnya hutan cemara yang tumbuh maka daerah ini dinamai Cemoro Sewu ( Seribu Cemara ). Pendakian dibagi menjadi 4 kelompok, saya dan 6 orang lainnya bergabung di kelompok 3 kami akan melewati 5 pos hingga sampai kepuncak.

Perjalanan ke pos 1 tidak terlalu terjal, saya tidak terlalu mengetahui kondisi kiri dan kanan saya karena hanya ditemani senter dan fokus kedepan, sebelum pos 1 kami sempat istirahat didekat Sumber Air Wesanan, mbah saraf kami memanggilnya dia merupakan ranger kami kali ini, dengan kulkas besar yang dipikulnya serta gentongan sapi yang bergelayutan disisi tasnya mengeluarkan bunyi unik menemani langkah kami malam itu, dikeluarkan lah derijen air kecil dari kulkasnya itu untuk sekedar mengambil air bersih disana.

Jalur pendakian sedikit demi sedikit akan semakin menanjak seiring kita memasuki kawasan hutan. Berjalan kembali kurang lebih 60 menit kita bertemu dengan pos 1. Disini terdapat warung disisi kiri dan kanan jalan tapi karena sudah malam warung ini ga buka. Inilah keunikan dari gunung lawu banyak terdapat warung sepanjang jalur, dan yang paling terkenal adalah Warung Mbok Yem di ketinggian 3100 mdpl yang nanti akan kami cicipi nasi pecelnya, khas mpok Yem dipuncak gunung lawu.

Beranjak dari pos 1 jalur makin curam, dinginnya malam mulai menusuk, kabut juga mulai menghampiri kami diselingi dengan deru angin gunung yang menambah suasana kalau kami sedang berdampingan langsung dengan alam. Jalur kali ini terasa sangat lama, kami beberapa kali istirahat. Mbah saraf pun merelakan kulkasnya dibawa oleh bang suluh saking beratnya track kali ini.

Sekitar 90 menit kita akan sampai di pos 2. Dataran cukup lebar bisa untuk mendirikan tenda dan bermalam tetapi tidak terdapat mata air di pos ini. Jam 4 pagi saya dan kelompok lainnya sampai disini, sebentar lagi mentari akan menyembulkan cahayanya. Kami akan istirahat disini, bergegas mendirikan tenda dan mengeluarkan beberapa logistik untuk memasak sarapan pagi kami. Lembayung matahari terbit sangat indah disela-sela perbukitan sejauh mata memandang, masih lumayan gelap juga. Alangkah terkejut kami ketika pagi Pos 2 tak ubahnya seperti TPA, sampah menumpuk dimana-dimana, katanya pada 1 Suro pendakian sangat ramai, efeknya sebanding dengan banyaknya sampah yang dihasilkan. Lagi-lagi saya teringat, kata-kata salah satu teman, kami sempat kenalan waktu ngetrip ke salah satu daerah di Medan waktu itu, WNA dari Francis yang kerja dimedan dia sangat mengagumi keindahan Indonesia khusus Sumatera, “tapi kalian ga mampu menjaganya, lihat itu sampah berserakan dimana-dimana sangat disayangkan” katanya dengan nada emosi. Di Pos 2 ini ada bangunan untuk istirahat nampak dipenuhi corat-coret tangan jahil, banyak coretan dengan kata-kata “Lestari” tetapi mereka ga sadar tulisan itu malah merusak.

Pos 2

Matahari terbit disisi tenda

Sarapan pagi di Pos 2
Jam 9 pagi kami gerak menuju Pos 3, Selepas pos 2 jalanan akan semakin menanjak dengan kemiringan yang cukup curam, disini fisik dan mental benar benar diuji. Disinilah indahnya pendakian itu ku rasa, bukan berusaha menaklukan puncak yang jauh diatas sana. Tapi bagaimana menaklukkan diri sendiri, disinilah kita merasa kecil sebegitu dasyatnya alam semesta ciptaan Tuhan ini. Tidak ada yang bisa kita sombongkan. Bebatuan yang menanjak membuat kita tahu kemampuan diri sendiri, kapan akan berhenti dan melangkah lagi, kapan kita mengatur nafas, istirahat dan mulai berjalan lagi. Dan semua itu cuman bisa kita rasakan ketika mendaki, banyak orang menganggap ini hobi yang sia-sia. Kalau saya tidak pernah mencoba mungkin saya juga akan mengatakan hal yang sama.

Entah udah berapa lama kami berjalan jam 11.00 kurang kami menjumpai pos 3. Selepas kawasan pos 3, kita akan mendapatkan track yang sangat menanjak, dari sekian jalur menurut kami ini adalah jalur terberat di jalur cemoro sewu, saya dan beberapa teman lainnya banyak istirahat disini selain pemandangannya juga indah. dari jauh kelihatan telaga, sepertinya itu telaga Sarangan. Di jalur ini kita juga akan disuguhi pemandangan beberapa Edelweis nan anggun tumbuh disela-sela bebatuan tebing curam.

Menuju Pos 4

Edelweis disekitar jalur menuju pos 4
Menuju Pos 4 jalur menanjak, merangkak pada batu-batuan dan beberapa jalur dilengkapi pegangan besi untuk mengatur keseimbangan. Pos 4 hanya berupa tempat datar yang sempit yang berada di cerukan tebing batu berwarna putih, tapi pemandangannya sangat indah serasa diatas awan, angin disini juga cukup kencang. Tidak kami lewatkan begitu saja momen ini dengan mengabadikannya dalam jepretan kamera.
Pos 4

Penampakan di Pos 4
Setelah melewati Pos 4 kita sudah berada dilereng yang curam, tidak jauh beda dengan jalur sebelumnya disini juga lumayan berat, perlahan lahan berjalan kita akan keluar dari lingkupan hutan, vegetasi tumbuhan mulai berubah lebih banyak ilalang dan tumbuhan perdu disini, di Pos 5 ada satu warung juga kami memutuskan melanjutkan perjalanan saja, walaupun perut terasa lapar, track bonus mendatar banyak kami jumpai, ini menandakan kami akan segera sampai di sendang drajat. Pemandangan lepas nan indah, nyamannya mata memandang awan bergulung di bawah kaki kita, kota kota bak mainan kecil di hadapan megah semesta raya. Sungguh indah, cuaca sangat mendukung.


 Warung di Pos 5

Menuju Sendang drajat, pemandangannya sangat indah

Amazing...!!!!! Im above the clouds.

Sekitar Jam 3 sore kami di Pos Sendang Drajat, ini tempat untuk kami mendirikan tenda dan bermalam nantinya. Disini terdapat mata air, warung, sebuah goa buatan kecil, dan toilet walaupun dengan keadaan kotor dan tidak terawat. Saya dan teman-teman lain memesan teh hangat dan nasi pecel untuk mengisi perut yang kosong sekalian makan siang walaupun telat. Kami nikmati suguhan makanan dari sepasang suami istri yang lumayan berumur pemilik warung (ga gratis ya hehehe) sembari menunggu kelompok lain datang.

Mendirikan tenda di Sendang Drajat

Semakin sore udara semakin dingin, wajah, tangan dan kakiku serasa beku ketika berwudhu sore itu. Setelah makan malam kami istirahat dan melanjutkan perjalanan menuju puncak lawu esok pagi.

Pagi-pagi warna lembayung keemasan menyembul disisi barat tenda kami, saatnya kami bergegas ke puncak dengan berjalan kurang 60 menit kami sampai di puncak lawu Hargo Dumilah 3265  MDPL . Sudah banyak pendaki dipuncak pagi itu, kami abadikan momen sunrise dipuncak.
 Lembayung keemasan menyembul disisi barat tenda



Hari Pahlawan (10 Nop di puncak Gn. Lawu)


Wajib narsis

Setelah puas berfoto-foto kami lanjutkan sarapan ke warung tertinggi di Pulau Jawa, warung Mbok Yem (3100 MDPL), lalu Hargo Dalem, sebuah petilasan dan makam peninggalan dari Prabu Brawijaya (Raja terakhir Kerajaan Majapahit). Konon disinilah tempat Prabu Brawijaya "Muksa", Menghilang dengan seluruh jasadnya. Lalu diakhiri dengan Rumah Botol, rumah unik karena bahan material untuk membangunnya bukan dari bahan-bahan yang lazim digunakan untuk membangun rumah, rumah unik ini di bangun dari limbah, yaitu limah botol bekas air mineral dan beberapa kaleng bekas minuman yang disusun sedemikian rupa menjadi bentuk rumah. Dan rumah ini bisa dihuni, terlihat dari pintu yang terkunci rapat, dengan gembok yang sudah aus dimakan waktu.


Mpok Yem dan cucunya (bocah termuda pendaki gn. Lawu)

Rumah Botol
Akhirnya tiba saatnya untuk turun, perjalanan kali ini akan kami tempuh dalam waktu 4 jam lebih sampai basecamp di kaki gunung lawu dengan jalur yang sama Cemoro Sewu. Beberapa kali saya mendaki, pulangnya pasti akan semakin akrab dan serasa keluarga sendiri, entah kenapa bisa begitu. Terima Kasih banyak BPI regional Jogja dan teman-teman baru ku yang ga bisa disebutkan satu persatu. Sampai bertemu ditrip selanjutnya.
Kelompok 2 turun gunung



 Jalan pulang

Terima kasih banyak kawan...!!!!





Selasa, 07 Agustus 2012

Bagi jagungnya donk om...

Setelah mengobrak-abrik foto-foto kegiatan beberapa bulan ini yang saya jalani. Ternyata foto monyet-monyet yang sering muncul didepan Tahura Bukit Barisan membuat saya meliriknya dan mulai mengedit beberapa foto yang menurut saya lumayan lucu. Seakan-akan foto tersebut bisa bicara. 
Ya, Hal tersebut berawal dari kebosanan kami di hari-hari terakhir pada saat melakukan kegiatan camping dan rehabilitasi lahan di Taman Hutan Raya Bukit Barisan Berastagi, Sumatera Utara, sore-sore kami keluar dari camping ground setelah gerimis datang menghampiri tenda kami sore itu menuju gerbang Tahura. Eh, ga tau nya kami disuguhi pemandangan monyet-monyet yang berebutan jagung dari pengunjung, lumayan banyak. Tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil beberapa foto. Ini foto-fotonya, silahkan :D








Jumat, 15 Juni 2012

Telusur Goa (caving)

Definisi Telusur Gua


Kegiatan di alam bebas semakin berkembang. Mendaki gunung sudah sangat dikenal, meniti tebing terjal, bahkan menginjak puncak gunung es atau salju kini bukan lagi merupakan suatu impian. Ada satu kegiatan lain di alam bebas yang mulai berkembang, yaitu Telusur Gua.

Jika bentuk kegiatan di alam bebas kebanyakan dilakukan di alam terbuka, tidak demikian halnya dengan telusur gua ; kegiatan ini justru dilakukan di dalam tanah.

Telusur Gua atau Caving berasal dari kata cave, artinya gua. Menurut Mc Clurg, cave atau gua bearti “ruang alamiah di dalam bumi”, yang biasanya terdiri dari ruangan-ruangan dan lorong-lorong.

Aktivitas Caving diterjemahkan sebagai ‘aktivitas penelusuran gua’. Setiap aktivitas penelusuran gua, tidak lepas dari keadaan gelap total. Justru keadaan seperti ini yang menjadi daya tarik bagi seorang caver, sebutan untuk seorang penelusur gua. Petualangan di lorong gelap bawah tanah menghasilkan pengalaman tersendiri. Perasaan ingin tahu yang besar bercampur dengan perasaan cemas karena gelap total. Ada apa dalam kegelapan itu ? membahayakankah ? adakah kehidupan di sana ? Pertanyaan lebih jauh bagaimana lorong-lorong itu terbentuk ? Pertanyaan yang kemudian timbul, kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang gua dan aspeknya, termasuk misteri yang dikandungnya. Maka dikenal istilah “speleologi”. Ruang lingkup ilmu pengetahuan ini tidak hanya keadaan fisik alamaiahnya saja, tetapi juga potensinya; meliputi segi terbentuknya gua, bahan tambang, tata lingkungan, geologi gua, dan segi-segi alamiah lainnya.

Kalau sebagian orang merasa enggan untuk mendekati “lubang gelap mengangga”, maka para penelusur gua justru masuk kedalamnya, sampai berkilo-kilometer jauhnya. Lubang sekecil apapun tak luput dari perhatiannya, jika perlu akan ditelusuri sampai tempat yang paling dalam sekalipun.

Mc. Clurg mencatat, setiap penelusuran gua tidak menginginkan lorong yang ditelusurinya berakhir, mereka mengharapkan di setiap kelokan di dalam gua dijumpai lorong-lorong yang panjangnya tidak pernah disaksikan oleh siapapun sebelumnya. Sehingga apabila orang bertanya, “ Mengapa mereka memasuki gua ?”, barangkali catatan Norman Edwin adalah jawabannya, “ Adalah suatu kepuasan bagi seorang penelusur gua bila lampu yang dibawanya merupakan sinar pertama yang mengungkapkan sebuah pemandangan yang menakjubkan di bawah tanah”.

2. Sejarah Penelusuran Gua
Sejarah penelusuran gua dimulai di Eropa sejak 200 tahun lalu. Eksplorasi pertama tercatat dalam sejarah adalah tanggal 15 Juli 1780, ketika Louis Marsalliers menuruni gua vertikal Fairies di Languedoc, Perancis. Kemudian pada tanggal 27 Juni 1888, seorang ahli hukum dari Paris bernama Eduard Alfred Martel mengikuti jejak Marssalliers. Penelusurannya kali ini direncanakan lebih matang dengan menggunakan peralatan lengkap seperti katrol, tangga gantung, dan perahu kanvas yang pada waktu itu baru diperkenalkan oleh orang-orang Amerika. Bahkan telephone yang baru diperkenalkan digunakan untuk komunikasi di dalam tanah. Usaha Martel ini dianggap sebagai revolusi di bidang penelusuran gua, sehingga ia disebut sebagai “Bapak Speleologi Modern”.

Prestasi Martel juga dalam hal memetakan gua yang merupakan kewajiban seorang penelusur gua ketika ia melakukan eksplorasi gua ketika ia melakukan eksplorasi gua. Antara tahun 1888-1913, Martel telah banyak memetakan gua dalam setiap penelusurannya, ini digunakan untuk kepentingan ilmiah, dan untuk merekam kedalaman serta panjang gua-gua tersebut.

Ketika Perang Dunia II selesai, kegiatan penelusuran gua memunculkan kembali dua orang tokoh ; Robert de Jolly dan Norman Casteret. De Jolly merupakan pembaharu di bidang peralatan peralatan penelusuran gua, seperti tangga gantung dari aluminium dan perahu kanvas yang lebih sempurna. Penemuan ini mejadi standar bagi para penelusur gua sampai 50 tahun kemudian. Sedangkan Casteret menjadi pioneer di bidang “cave diving”. Usahanya ini dilakukan pada tahun 1922, ketika Casteret pertama kali menyelami lorong-lorong yang penuh air di gua Montespan tanpa bantuan peralatan apapun. Karangan-karangan Casteret antara lain “My Cave” dan “Ten Years Under Ground”, yang kemudian menjadi buku pegangan bagi para penggemar cave diving dan ahli speleologi.

Kebanyakan penelusur gua memulai kegiatannya sebagai pemanjat tebing, karena memang kegiatan yang dilakukan hampir serupa. Para pemanjat tebing pula yang memberi inspirasi bagi perkembangan penelusuran gua. French Alpine Club, sebuah perkumpulan pendaki gunung ternama di Eropa telah mengadakan ekspedisi bawah tanah, dan untuk pertama kalinya menggunakan tali sebagai pengganti tangga gantung. Kelompok ini pula yang mencipatakan rekor penurunan gua vertikal sedalam 608m.
Sejarah penelusuran gua sejalan dengan sejarah penelitian gua (speleologi), kedua kegiatan ini tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Eduard Martel, Robert de Jolly, Norman Casteret dan banyak lagi penelusur gua di seluruh dunia.

Terjadinya Gua

Dua unsur penting yang memegang peran terjadinya gua, yaitu rekahan dan cairan. Rekahan atau lebih tepat disebut sebagai “zona lemah”, merupakan sasaran bagi suatu cairan yang mempunyai potensi bergerak keluar. Cairan ini dapat berupa larutan magma atau air. Larutan magma menerobos ke luar karena kegiatan magmatis dan mengikis sebagian daerah yang dilaluinya. Apabila kegiatan ini berhenti, maka bekas jejaknya (penyusutan magma cair) akan meninggalkan bentuk gua, lorong, celah atau bentuk lain semacamnya. Ini sering disebut gua lava, biasanya di daerah gunung berapi.
Proses yang terjadi terhadap batuan yang dilaluinya, tidak hanya proses mekanis, tetapi juga proses kimiawi. Karenanya, dinding celah atau gua, biasanya mempunyai permukaan yang halus dan licin.
Pembentukan gua lebih sering terjadi pada jenis batuan gamping, karst, dengan komposisi dominan Kalsium Karbonat (CaCO3), disebut gua batu gamping. Batuan ini sangat mudah larut dalam air, bisa air hujan atau air tanah. Oleh karenanya, reaksi kimiawi dan pelarutan dapat terjadi di permukaan dan di bawah permukaan. Tetapi sering kali ditemukan juga mineral-mineral hasil reaksi yang tidak larut di dalam air, misalnya kuarsa dan mineral ‘lempung’. Lazimnya bahan-bahan ini akan membentuk endapan tersendiri. Sedangkan larutan jenuh kalsium, di tempat yang tidak terpengaruh oleh tenaga mekanis, diendapkan dalam bentuk kristalin, antara lain berupa stalagtit dan stalagmit, yang tersusun dari mineral kalsit, dan variasi-variasai ornamen gua lainnya yang menarik untuk dilihat.

Air cenderung bergerak ke tampat yang lebih rendah. Sama dengan yang terjadi di bawah permukaan. Hal ini berakibat daya reaksi dan pengikisan bersifat kumulatif. Tidak heran betapapun kecilnya sebuah celah tempat masuknya air di permukaan dapat menyebabkan hasil pengikisan berupa rongga yang besar, bahkan lebih besar di tempat yang lebih dalam. Rongga yang terbentuk mestinya berhubungan pula, hal ini mungkin karena sifat air yang mudah menyusup ke dalam celah yang kecil dan sempit sekalipun.

Ukuran besarnya gua tidak hanya tergantung pada intensitas proses kimiawi dan pengikisan yang berlangsung, akan tetapi juga ditentukan oleh jangka waktu proses itu berlangsung. Sedangkan pola rongga yang terjadi di bawah permukaan tidak menentu. Seandainya ditemukan pola rongga yang spesifik (mengikuti arah tertentu) maka dapat diperkirakan faktor geologi ikut berperan, misalnya adanya sistim patahan atau aspek geologis lainnya.
sumber : http://rimbakalimantan.multiservers.com/tips4.html

Suntuk dan jenuh melanda ku berharap alam mampu memberiku ketenangan yang luar biasa, membuat hati ini tentram, membuat ku senantiasa berpikir betapa indahnya ciptaan tuhan. Ingin mencobanya, telusur gua (caving). Semoga ada kesempatan……

Selasa, 07 Februari 2012

Menggapai Si Gunung Raja, Puncak Sibayak

Setelah beberapa saat istirahat menghilangkan lelah dari perjalanan saya kemarin, saya ingin mencoba berbagi sedikit pengalaman, pengalaman menarik dan seru setelah melakukan pendakian ke Gunung Raja di tanah Karo itu julukannya. Para pendaki dan pencinta alam lebih mengenal dengan nama gunung Sibayak.  Gunung yang secara administratif terletak di Desa Raja Berneh (Semangat Gunung) dan dari kota Brastagi. Untuk itu amatlah pantas apabila gunung Sibayak dijuluki sebagai "Gunung Raja" arti kata Sibayak ialah "Raja" Konon Tanah karo diperintah oleh 4 Raja (Sibayak). Keempat dari kerajaan itu ialah Sibayak lingga, Sarinembah, Suka, Barusjahe dan Kutabuluh

Selangkah Lagi, didepan kawah Sibayak
Bagi para pendaki gunung di Sumatera utara, mendaki gunung Sibayak merupakan salah satu pilihan yang menyenangkan. Rupanya, selain namanya cukup terkenal di Sumut, Sibayak juga menjadi "gunung incaran" para pendaki termasuk mancanegara, jadi jangan heran ketika anda kesini banyak wisatawan asing yang lalu lalang. Tak heran juga pada saat libur puncak sibayak sangat banyak dikunjungi dan bagai pasar malam, akan terlihat bivak(tenda) bagi mereka yang sekedar bermalam dan menghabiskan waktu dipuncak sibayak.

Ya, sabtu tanggal 4 februari kemaren saya berkesempatan menaklukkan puncak sibayak dengan keindahan panoramanya yang sangat mengesankan, serta jalan yang sangan menguras tenaga dan penuh perjuangan untuk mencapainya. Pendakian kali ini saya lakukan bersama beberapa teman-teman saya, beberapa teman-teman yang merupakan mahasiswa yang berasal dari Padang yang kuliah di Medan yang tidak tau mengisi liburan mau ngapain, karena liburan semester yang lumayan pendek memaksa kami untuk tidak pulkam. Dan yang lainnya teman- teman kampus, semuanya berjumlah 14 orang dengan 6 orang cewek-cewek tangguh.
ki-ka : syarief(ketua rempong),rahmat,ade,asep,fuad,ifan,adi,kk wiwi,ng nono,fitria,nisa,mita,cut
fotografer saya :)

Sabtu sore sekitar jam tengah empat kami sudah ngumpul dan gerak ke tempat tujuan, tujuan kami adalah pemandian air panas Lau Sidebuk-debuk. Ini merupakan salah satu rute yang biasa digunakan pendaki menuju puncak sibayak selain rute dari kota Berastagi, ataupun jalur 54 yang terletak di daerah Penatapan Sibolangit. Kurang dari 2 jam perjalanan kami sudah sampai di Lau Sidebuk-debuk, desa Raja Berneh, sekitar 60 Km dari Kota Medan belok Kanan dan masuk kurang lebih 7 Km dari jalan lintas Medan-Berastagi. Keadaan desa ini sangat heterogen dalam beragama, dengan rumah-rumah ibadat, Katolik, Protestan dan Islam yang saling berdampingan. Desa Raja Berneh ini menghasilkan sayur dan buah-buahan. Di sisi kiri dan kanan banyak penjual yang menjajakan souvenir dan buah-buahan. Tepat di kaki gunung ditemui sebuah sumber air panas, Sidebuk-debuk yang digunakan pengunjung sebagai tempat pemandian air panas.

Kehadiran kami disana disambut dengan udara yang dingin serta kabut khas daerah pegunungan, saat melangkahkan kaki menuju ke kaki gunung, gerimis sudah mulai menghampiri langkah kami. Beberapa meter dari pintu rimba kami istirahat menunggu malam persis didepan PLTP, lokasi pemboran panas bumi terletak di desa Semangat gunung, dikaki gunung Sibayak. Panas bumi dikembangkan menjadi pembangkit tenaga listrik. Setelah makan malam dan memesan kopi, kami mengisi waktu dengan berfoto-foto, main catur dan main ludo. Saya dan beberapa teman lainnya memilih bermain ludo, permainan yang menggunakan mata dadu untuk menjalankan 4 anak yang ada dikotak-kotak yang tersedia, sangat menyenangkan mengundang tawa dan keceriaan. Apalagi ketika anak/bidak yang dijalankan digeser atau dimatikan sehingga masuk kedalam kandangnya lagi, setiap bidak yang dimatikan hukumannya adalah coretan sisa kopi diwajah dan saya kena empat coretan diwajah, lumayan.
PLTP 

 fuad vs adi

Main ludo, coret-coret kopi
Setelah menunggu beberapa jam, saatnya kami bergerak menuju puncak sibayak. Gerimis pun mulai reda kami memutuskan jam 10.30 malam gerak, setelah sedikit arahan dan doa kami memulai langkah.  Jalan setapak ke puncak sangat jelas. Sepanjang jalan tidak ada ciri-ciri khusus, cuman dipintu rimba kita akan melewati hutan bambu, yang ditandai dengan pipa-pipa air, sebelum memasuki hutan sebenarnya. Jalan lumayan licin dan berlumpur karena hujan, tanjakan, kayu yang melintang, oksigen yang mulai berkurang dan tebing curam penuh tantangan yang membuat kami harus ekstra hati-hati. Namun senter dan tongkat kayu yang sebelumnya kami persiapkan sangat membantu. Semakin ke atas semakin menanjak memasuki Daerah puncak tumbuhan mulai rendah, dan mulai memasuki daerah berkerikil dan berbatu yang tidak begitu kompak ditambah hembusan angin dingin serta kabut. Jalan setapak yang tidak begitu jelas, cadas dengan kemiringan yang membuat kami merayap dan merangkak. Diatas ketinggian disela-sela istirahat kami disuguhkan pemandangan kerlap-kerlip lampu kota Berastagi dan sekitarnya, dan bulan yang belum penuh juga menyembulkan wajahnya di atas, dibalik bebatuan.
persiapan sebelum berangkat

setengah pendakian

sikit lagi wei..

Setelah tiga setengah jam kami sampai dipuncak, yang berketinggian 2.094M DPL. Berada dipuncak, suasana alam begitu memukau, apalagi terpancar keindahan kerlap-kerlip lampu-lampu desa di sekitar kaki gunung dimalam cerah. Ditambah lagi jejeran pengunungan Bukit barisan yang pesonanya begitu melengkapi kesempurnaan alam. Ditengah kesunyian kami ditemani suara solfatara yang senantiasa menyemburkan uap panas.
kerlap-kerlip lampu dari kejauhan
Pesona alam ini tidak mengaburkan kondisi puncak sibayak yang sudah porak-poranda karena letusan beberapa waktu silam. Dinginnya udara pegunungan dan gelapnya langit bertaburkan ribuan bintang di puncak malah menciptakan suasana alam yang berbeda, seakan membawa kita berhayal tentang permukaan di bulan, karena yang ditemui disana hanyalah pasir, batu-batuan dan kerikil. Berada di puncak, biasanya pendaki berupaya mencapai salah satu puncak tertinggi Sibayak yang bernama "Takal kuda," diambil dalam bahasa karo yang artinya "Kepala kuda.", kami tak tau sedang dipuncak mana, yang pasti salah satu puncak di sibayak. Puncak Sibayak berada di titik koordinat 97°30'BT dan 4°15'LS. Gunung yang masuk dalam tipe gunung berapi yang masih aktif dengan stato (berlapis) mempunyai uap panas, dari kondisi ini masyarakat menganggap puncak dan kawah gunung tersebut menyimpan sejuta misteri.

bikin api

gruop  rempong ini ya boo?? hehe

Udara sangat dingin, kami mulai membuka bekal, makan roti dan snack yang sudah disiapkan sebelumnya. Membuat api untuk memasak air, dan menghangatkan badan, sambil menatap langit dan panorama yang begitu indah ciptaan yang Kuasa. Selanjutnya sunrise lah yang kami tunggu, namun kami berada dipuncak yang salah, matahari bersembunyi dibalik puncak lain, padahal cuaca lumayan cerah hanya sedikit kabut. Namun, ga masalah setelah pagi kami baru sadar kawah unik telah menunggu yang begitu memukau yang membuat kami tiada henti untuk mengabadikannya. Selain disekitar kawah ditemukan batu cadas, kawah belerang yang luasnya 200 x 200 meter memiliki solfatara yang senantiasa menyemburkan uap panas. Untuk mengabadikan aktivitas kawah pendaki berlomba-lomba menuruni kawah. Dari kawah akan ditemukan sejumlah keunikan yang dimiliki oleh Sibayak yang amat jarang ditemukan di pegunungan lain. Biasanya kawasan landai di daerah pinggiran kawah dijadikan untuk mendirikan Bivak (Tenda) untuk beristirahat melepaskan lelah seusai mendaki.

 panorama bukit barisan





solfatara




kawah dan batu cadas belerang

Jam 9 pagi kami mulai gerak meninggalkan puncak sibayak, jalur kali ini menuju ke arah berastagi dengan jalan yang sangat bagus melalui jalan aspal. Sekitar 2 jam berjalan kaki kami bersiap pulang ke Medan.


jalan pulang

Satu hal yang paling mengesankan selain panorama Sibayak yang begitu indah adalah Kebersamaan yang mungkin mengalahkan semua kesan yang saya rasakan pada saat melakukan pendakian ini. Saling mengulurkan tangan ketika teman kesusahan, mencapai puncak dengan kesungguhan, perjuangan, dan tantangan. Semoga kita dapat mengaplikasikannya dalam hidup ini saling bantu, peduli, dan selalu berjuang menghadapi hidup yang penuh tantangan demi puncak yang lebih baik dan indah. Selanjutnya jangan berhenti bersyukur betapa besarnya kuasa Tuhan.
Kapan-kapan kita coba lagi, ada yang mau ikut?

Informasi Umum bagi Anda yang ingin ke Sibayak dari berbagi sumber :
Status Sibayak
Gunung Sibayak yang berketinggian 2.094 m.dpl secara administratif masuk dalam kabupaten Karo di Sumut. Hutan gunung ini masuk dalam hutan lindung berupa hutan alam pengunungan, yang tergabung dalam Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan yang merupakan Tahura ketiga di Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 48 Tahun 1988 tanggal 19 Nopember 1988. Pembangunan Tahura ini sebagai upaya konservasi sumber daya alam dan pemanfaatan lingkungan melalui peningkatan fungsi dan peranan hutan. Hutan gunung yang masih alami tersebut tergabung dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan Daerah Tangkapan Air (DTA) bagi masyarakat disekitar gunung dan hutan.

Route pendakian Sibayak
Untuk mencapai puncak gunung Sibayak, pendaki dapat memasuki tiga pintu rimba dengan menelusuri jalan setapak melalui hutan belantara tropis dan tebing curam, yang ditemui disepanjang kiri-kanan pendakian. Pintu rimba sibayak melalui, Desa Raja Berneh (Semangat Gunung), Jalur 54, Penatapan jagung rebus dan Jaranguda kira-kira 500 meter dari kota berastagi. Ketiga-jalur dapat dicapai dengan angkutan umum dari kota Medan. Jalur 54 atau sering disebut jalur "Aqua" lebih dikenal dengan medan yang cukup menantang.
Kalau ingin tiga jam mencapai puncak ambil jalur desa Raja Berneh, yang berlokasi sekitar 7 km dari jalan raya Medan - Brastagi. Di desa Raja Berneh ditemukan pemandian air panas Lau Sidebuk-debuk atau Hot Spring. Dan PLTP pembangkit Listrik Panas bumi.

Transportasi
Untuk Transportasi dari kota medan, kita bisa mengunakan bus umum Sinabung Jaya, Sutra, Mitra dan lainnya trayek Medan-Berastagi Biasanya dari Simpang Pos Padang Bulan Medan dengan ongkos 7000 per orang. Masalah perijinan tidak ada masalah, kalo kita sudah sampai di kaki maka kita tinggal daki aja, setelah kita sudah menyelesaikan ristribusi sebesar 2000 per orang di kaki gunung Sibayak. Sebagai tambahan umumnya pendakian gunung Sibayak dilakukan malam minggu.
Semoga Bermanfaat….
 

Total Pageviews