Social Icons

twitterfacebook

Pages

Rabu, 27 November 2013

Pendakian Gunung Lawu (3265 MDPL) 8-10 November 2013

Sore itu memang hujan, bersamaan dengan beberapa kesibukan saya dikampus, sebelum bersenang-senang (jalan-jalan) saya sengaja mengejar deadline tugas yang lumayan banyak. Sore itu saya telat sampai terminal Giwangan Jogjakarta, niat hati mau berangkat bersama ke kaki Gunung Lawu, karena kami menggunakan trans Jogja alhasil saya dan satu orang teman, “bang suluh” diajak secara tidak langsung mutar-mutar jogja. Puyeng sih, Jarak tempuh yang harusnya kurang lebih setengah jam dengan sepeda motor tapi menjadi satu setengah jam, sms dan telfon berdatangan dari salah satu panitia pendakian massal gunung lawu bersama Backpacker Indonesia Regional Jogja. Sampai di giwangan jam 6 sore, kami langsung berangkat ada beberapa orang juga yang telat sedangkan yang lain udah berangkat duluan dengan bus yang berbeda. Tujuan kami kali ini ke kota Solo, dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam. Sampai di solo sudah menunggu teman-teman baru saya, ada sekitar 28 orang yang akan ikut dalam pendakian ini. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan bis yang berbeda kearah perbatasan jawa timur dan jawa tengah. Tujuan kami adalah kaki gunung lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Jam 10 malam sampai di Basecamp, warung dimana kami akan mengemas ulang barang bawaan dan logistik ke puncak nanti.
Sesaat sebelum berangkat
Ini pendakian pertama saya di pulau Jawa, gunung Lawu salah satu gunung yang lumayan populer bagi pendaki dengan ketinggian sekitar 3265 MDPL, tidak aktif, memiliki vegetasi tumbuhan yang sangat beragam disepanjang jalur pendakian dan sangat dikeramatkan, tidak heran saat pendakian bukan hanya anak muda yang mendaki tapi warga sekitar bapak-bapak dan ibu-ibu bahkan anak-anak juga ikut mendaki untuk melakukan ziarah.

Sekitar jam 12 malam dengan diawali doa dipintu rimba, kami memulai langkah. Jalur daki sangat jelas dan berbatu tertata rapi. Awal perjalanan jalur ditumbuhi oleh pohon - pohon cemara, karena lebatnya hutan cemara yang tumbuh maka daerah ini dinamai Cemoro Sewu ( Seribu Cemara ). Pendakian dibagi menjadi 4 kelompok, saya dan 6 orang lainnya bergabung di kelompok 3 kami akan melewati 5 pos hingga sampai kepuncak.

Perjalanan ke pos 1 tidak terlalu terjal, saya tidak terlalu mengetahui kondisi kiri dan kanan saya karena hanya ditemani senter dan fokus kedepan, sebelum pos 1 kami sempat istirahat didekat Sumber Air Wesanan, mbah saraf kami memanggilnya dia merupakan ranger kami kali ini, dengan kulkas besar yang dipikulnya serta gentongan sapi yang bergelayutan disisi tasnya mengeluarkan bunyi unik menemani langkah kami malam itu, dikeluarkan lah derijen air kecil dari kulkasnya itu untuk sekedar mengambil air bersih disana.

Jalur pendakian sedikit demi sedikit akan semakin menanjak seiring kita memasuki kawasan hutan. Berjalan kembali kurang lebih 60 menit kita bertemu dengan pos 1. Disini terdapat warung disisi kiri dan kanan jalan tapi karena sudah malam warung ini ga buka. Inilah keunikan dari gunung lawu banyak terdapat warung sepanjang jalur, dan yang paling terkenal adalah Warung Mbok Yem di ketinggian 3100 mdpl yang nanti akan kami cicipi nasi pecelnya, khas mpok Yem dipuncak gunung lawu.

Beranjak dari pos 1 jalur makin curam, dinginnya malam mulai menusuk, kabut juga mulai menghampiri kami diselingi dengan deru angin gunung yang menambah suasana kalau kami sedang berdampingan langsung dengan alam. Jalur kali ini terasa sangat lama, kami beberapa kali istirahat. Mbah saraf pun merelakan kulkasnya dibawa oleh bang suluh saking beratnya track kali ini.

Sekitar 90 menit kita akan sampai di pos 2. Dataran cukup lebar bisa untuk mendirikan tenda dan bermalam tetapi tidak terdapat mata air di pos ini. Jam 4 pagi saya dan kelompok lainnya sampai disini, sebentar lagi mentari akan menyembulkan cahayanya. Kami akan istirahat disini, bergegas mendirikan tenda dan mengeluarkan beberapa logistik untuk memasak sarapan pagi kami. Lembayung matahari terbit sangat indah disela-sela perbukitan sejauh mata memandang, masih lumayan gelap juga. Alangkah terkejut kami ketika pagi Pos 2 tak ubahnya seperti TPA, sampah menumpuk dimana-dimana, katanya pada 1 Suro pendakian sangat ramai, efeknya sebanding dengan banyaknya sampah yang dihasilkan. Lagi-lagi saya teringat, kata-kata salah satu teman, kami sempat kenalan waktu ngetrip ke salah satu daerah di Medan waktu itu, WNA dari Francis yang kerja dimedan dia sangat mengagumi keindahan Indonesia khusus Sumatera, “tapi kalian ga mampu menjaganya, lihat itu sampah berserakan dimana-dimana sangat disayangkan” katanya dengan nada emosi. Di Pos 2 ini ada bangunan untuk istirahat nampak dipenuhi corat-coret tangan jahil, banyak coretan dengan kata-kata “Lestari” tetapi mereka ga sadar tulisan itu malah merusak.

Pos 2

Matahari terbit disisi tenda

Sarapan pagi di Pos 2
Jam 9 pagi kami gerak menuju Pos 3, Selepas pos 2 jalanan akan semakin menanjak dengan kemiringan yang cukup curam, disini fisik dan mental benar benar diuji. Disinilah indahnya pendakian itu ku rasa, bukan berusaha menaklukan puncak yang jauh diatas sana. Tapi bagaimana menaklukkan diri sendiri, disinilah kita merasa kecil sebegitu dasyatnya alam semesta ciptaan Tuhan ini. Tidak ada yang bisa kita sombongkan. Bebatuan yang menanjak membuat kita tahu kemampuan diri sendiri, kapan akan berhenti dan melangkah lagi, kapan kita mengatur nafas, istirahat dan mulai berjalan lagi. Dan semua itu cuman bisa kita rasakan ketika mendaki, banyak orang menganggap ini hobi yang sia-sia. Kalau saya tidak pernah mencoba mungkin saya juga akan mengatakan hal yang sama.

Entah udah berapa lama kami berjalan jam 11.00 kurang kami menjumpai pos 3. Selepas kawasan pos 3, kita akan mendapatkan track yang sangat menanjak, dari sekian jalur menurut kami ini adalah jalur terberat di jalur cemoro sewu, saya dan beberapa teman lainnya banyak istirahat disini selain pemandangannya juga indah. dari jauh kelihatan telaga, sepertinya itu telaga Sarangan. Di jalur ini kita juga akan disuguhi pemandangan beberapa Edelweis nan anggun tumbuh disela-sela bebatuan tebing curam.

Menuju Pos 4

Edelweis disekitar jalur menuju pos 4
Menuju Pos 4 jalur menanjak, merangkak pada batu-batuan dan beberapa jalur dilengkapi pegangan besi untuk mengatur keseimbangan. Pos 4 hanya berupa tempat datar yang sempit yang berada di cerukan tebing batu berwarna putih, tapi pemandangannya sangat indah serasa diatas awan, angin disini juga cukup kencang. Tidak kami lewatkan begitu saja momen ini dengan mengabadikannya dalam jepretan kamera.
Pos 4

Penampakan di Pos 4
Setelah melewati Pos 4 kita sudah berada dilereng yang curam, tidak jauh beda dengan jalur sebelumnya disini juga lumayan berat, perlahan lahan berjalan kita akan keluar dari lingkupan hutan, vegetasi tumbuhan mulai berubah lebih banyak ilalang dan tumbuhan perdu disini, di Pos 5 ada satu warung juga kami memutuskan melanjutkan perjalanan saja, walaupun perut terasa lapar, track bonus mendatar banyak kami jumpai, ini menandakan kami akan segera sampai di sendang drajat. Pemandangan lepas nan indah, nyamannya mata memandang awan bergulung di bawah kaki kita, kota kota bak mainan kecil di hadapan megah semesta raya. Sungguh indah, cuaca sangat mendukung.


 Warung di Pos 5

Menuju Sendang drajat, pemandangannya sangat indah

Amazing...!!!!! Im above the clouds.

Sekitar Jam 3 sore kami di Pos Sendang Drajat, ini tempat untuk kami mendirikan tenda dan bermalam nantinya. Disini terdapat mata air, warung, sebuah goa buatan kecil, dan toilet walaupun dengan keadaan kotor dan tidak terawat. Saya dan teman-teman lain memesan teh hangat dan nasi pecel untuk mengisi perut yang kosong sekalian makan siang walaupun telat. Kami nikmati suguhan makanan dari sepasang suami istri yang lumayan berumur pemilik warung (ga gratis ya hehehe) sembari menunggu kelompok lain datang.

Mendirikan tenda di Sendang Drajat

Semakin sore udara semakin dingin, wajah, tangan dan kakiku serasa beku ketika berwudhu sore itu. Setelah makan malam kami istirahat dan melanjutkan perjalanan menuju puncak lawu esok pagi.

Pagi-pagi warna lembayung keemasan menyembul disisi barat tenda kami, saatnya kami bergegas ke puncak dengan berjalan kurang 60 menit kami sampai di puncak lawu Hargo Dumilah 3265  MDPL . Sudah banyak pendaki dipuncak pagi itu, kami abadikan momen sunrise dipuncak.
 Lembayung keemasan menyembul disisi barat tenda



Hari Pahlawan (10 Nop di puncak Gn. Lawu)


Wajib narsis

Setelah puas berfoto-foto kami lanjutkan sarapan ke warung tertinggi di Pulau Jawa, warung Mbok Yem (3100 MDPL), lalu Hargo Dalem, sebuah petilasan dan makam peninggalan dari Prabu Brawijaya (Raja terakhir Kerajaan Majapahit). Konon disinilah tempat Prabu Brawijaya "Muksa", Menghilang dengan seluruh jasadnya. Lalu diakhiri dengan Rumah Botol, rumah unik karena bahan material untuk membangunnya bukan dari bahan-bahan yang lazim digunakan untuk membangun rumah, rumah unik ini di bangun dari limbah, yaitu limah botol bekas air mineral dan beberapa kaleng bekas minuman yang disusun sedemikian rupa menjadi bentuk rumah. Dan rumah ini bisa dihuni, terlihat dari pintu yang terkunci rapat, dengan gembok yang sudah aus dimakan waktu.


Mpok Yem dan cucunya (bocah termuda pendaki gn. Lawu)

Rumah Botol
Akhirnya tiba saatnya untuk turun, perjalanan kali ini akan kami tempuh dalam waktu 4 jam lebih sampai basecamp di kaki gunung lawu dengan jalur yang sama Cemoro Sewu. Beberapa kali saya mendaki, pulangnya pasti akan semakin akrab dan serasa keluarga sendiri, entah kenapa bisa begitu. Terima Kasih banyak BPI regional Jogja dan teman-teman baru ku yang ga bisa disebutkan satu persatu. Sampai bertemu ditrip selanjutnya.
Kelompok 2 turun gunung



 Jalan pulang

Terima kasih banyak kawan...!!!!





Sabtu, 26 Oktober 2013

Chord Dygta Karena Ku Sayang Kamu

Intro : C G F G
        C G F G


c              G             F
Seandainya kau ada disini denganku
        G
Mungkin ku tak sendiri
C             G             F
Bayanganmu yang selalu menemaniku
  Dm          G  F  
Hiasi malam sepiku
             G
Kuingin bersama dirimu

reff:
              F                  G
Kutak akan pernah berpaling darimu
        Em             Am
Walau kini kau jauh dariku
             Dm
Kan selalu kunanti
        G          
Karena kusayang kamu


musik : C Am Dm G

C             G             F
Hati ini selalu memanggil namamu
       G
Dengarlah melatiku
C              G               F
Kuberjanji hanyalah untukmu cintaku
       G                  f
Takkan pernah ada yg lain

F              Em
Adakah rindu di hatimu
Dm                G
Seperti rindu yg kurasa
Dm                  Em
Sanggupkah kuterus terlena
    F
Tanpamu di sisiku
  Dm         G        C
Kukan selalu menantimu

Jumat, 27 September 2013

Pak Dirman



“Belajar menahan penderitaan berguna bagi hidup di kemudian hari. Suatu Kelak, boleh jadi kita akan mengalami lebih hebat dari ini (Jenderal Soedirman)”.

Sang Jenderal Besar Bintang Lima pertama negeri ini, pemimpin karismatik dan tegas. Menyatukan berbagai unsur Tentara Rakyat yang dulu beragam berasal berbagai kalangan, rakyat biasa, ormas, kepemudaan atau pelajar yang punya ego sendiri.  

Bagi bangsa ini, Jenderal Soedirman mewariskan watak pantang menyerah oleh keadaan dan situasi. Ia berwatak keras untuk menegakkan prinsip. Ia mengandalkan kebersihan jiwa untuk mencapai tujuan, serta ketabahan hati untuk melalui segala macam penderitaan. Bergerilya masuk hutan keluar hutan diatas tandu dengan badan sempoyongan, bernafas mengandalkan paru-paru yang tinggal sebelah, digeregoti TBC dan batuk-batuk sepanjang malam demi mengemban tugas besar mempertahankan dan menunjukkan kepada belanda bahwa TNI masih utuh. Konon, setiap prajurit berebutan mengangkut tandu sang jenderal itu. Mereka semua merasa haru melihat sosok Pak Dirman.

Pasukan baret merah Belanda selalu gagal menangkap Soedirman. Berkali-kali pasukan kebanggaan Jenderal Spoor ini harus pulang dengan tangan hampa saat memburu Soedirman.  Perjuangan Soedirman tidak sia-sia. 

Berbagai serangan yang dilakukan TNI mampu mendesak Belanda duduk ke meja perundingan. Hingga akhirnya Belanda setuju untuk meninggalkan Yogyakarta. Maka Soedirman kembali ke Yogyakarta. Resimen-resimen TNI berbaris menyambutnya. Mereka tidak kuasa menahan haru melihat tubuh kurus yang berbalut mantel seperti milik petani itu. Para prajurit tahu hanya semangat yang membuat Pak Dirman tahan bergerilya berbulan-bulan. Mata para prajurit yang berbaris rapi itu basah oleh air mata. Dada mereka sesak saat memberikan penghormatan bersenjata pada Soedirman.

Semua tahu, gerilya yang dilakukan Soedirman besar artinya untuk Republik Indonesia. Jika Soedirman tidak bergerilya dan melakukan serangan pada Belanda, maka dunia internasional akan percaya propaganda Belanda bahwa republik sudah hancur. Tanpa gerilya, Indonesia tidak akan mungkin punya suara dalam perundingan Internasional.

Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soedirman merangkul Soedirman. Soekarno sempat mengulangi  pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer.

Soedirman meninggal 29 Januari 1950. Saat merah putih sudah berkibar di seluruh pelosok nusantara, Soedirman tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil perjuangannya. Semoga kita bukan generasi muda yang melupakan sejarah bangsa, semoga kita bisa meneladani tokoh-tokoh yang mampu mengubah Indonesia sehingga kita merasakan makna merdeka yang sekarang ini kita rasakan dari jerih payah mereka.
Dari Berbagai Sumber

Selasa, 03 September 2013


1st September- Dieng Plateu, South Java (2350Mdpl)

Kerasnya Hidup Dandelion


Kompleks Candi Arjuna Dieng Plateu Jawa Tengah, sekilas pandang tidak ada yang menarik dari rerumputan yang berada di sisi-sisi candi ini. Tapi kami tertarik ternyata ada beberapa dandelion yang berbentuk bulat, warna putih tapi ringan seperti gumpalan kapas. Dandelion yang bernama latin Taraxacum Officinale,  asli dari tumbuhan ini adalah Eropa dan Asia, namun sudah menyebar ke segala tempat. Di Indonesia dandelion disebut masyarakat sebagai Randa tapak atau jombang. Nama Randa Tapak sendiri biasa digunakan untuk merujuk kepada sebuah tumbuhan yang memiliki "bunga" yang memiliki "bunga-bunga" kecil yang terbang ditiup angin. Yang disebut sebagai bunga dari tumbuhan ini menjadi semacam jam hayati yang secara teratur melepaskan banyak bijinya. Biji-biji ini sesungguhnya adalah buahnya (Wikipedia).

Dandelion bukan lah bunga tetapi bibit baru yang akan tumbuh lagi dan berbunga di berbagai tempat, mereka pasrah tertiup angin tidak ada perasaan takut sama sekali jauh dari pohon induknya dan berpetualang ke tempat baru yang belum tentu bersahabat. Terbawa ke ranting pohon, bebatuan, tebing curam, tanah yang tandus. Apabila nasib berpihak bibit-bibit dandelion baru mendarat di tanah subur cukup air dan mereka tumbuh subur disana, berbunga kuning seperti bunga matahari karena katanya dandelion masih berkerabat dengan bunga matahari atau sejenisnya. Namun apabila nasib tidak berpihak maka takdir mereka harus hidup di bebatuan dan tebing curam kekurangan air dan unsur hara, Dandelion cuman mengharapkan setetes air hujan yang turun untuk hidup. Menjalani hidupnya yang keras penuh tantangan ditempat yang baru, ditempat dimana mereka akhirnya akan berbunga kelak, walaupun hanya disela-sela tebing atau bebatuan. Pada saat kami menikmati alam Dieng beberapa waktu yang lalu, kadang kami menemukan mereka tumbuh ditepi jalanan berbukit kapur disela-sela Pipa Geothermal yang banyak di kawasan Dieng, terlihat indah dengan beberapa rumput dan tanaman perdu bergabung dan memperlihatkan eksotisme tersendiri bagi kami. Sungguh indah…….

Satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Dandelion memang terlihat pasif hanya mengandalkan tiupan angin untuk tumbuh menjadi bunga baru, namun mereka tumbuhan yang tidak takut akan tantangan di dunia baru yang jauh dari pohon induk dan tidak tau apakah mereka akan hidup atau terbang jauh sia-sia. Dunia baru dengan adaptasi baru, menghadapi tantangan sekalipun itu keras, tapi dengan tekad dan kemauan yang keras kita akan hidup dan menyebarkan benih-benih pemikiran yang baru dan menyebarkan keindahan, seperti indahnya Dandelion. Semoga…..

Selasa, 30 April 2013

Jawa...


Jawa…
Pengalaman unik minggu lalu, saat ngambil pakaian di Laundry, namanya siapa “Wito” mbak. Wah namanya kok wito (kayak ga percaya) ga ada nama lain toh…!!! (Sambil bercanda). Dalam hati, mbak ini ga percaya kali saya yang sekeren ini namanya ”Wito’. Lantas saya jawab sambil bercanda, kalau di Sumatera sana nama ini keren banget loh mbak. “Moso ga percaya ah” (dengan logat Jawanya). Saya ketawa aja. :D

Banyak yang heran memang saya dilahirkan dari orang tua asli Padang tapi nama saya identik Jawa. Ceritanya begini, Saya pernah dibesarkan di Lingkungan Jawa dan sempat bisa bahasa jawa. Ya, tepatnya sekitar 18 tahun yang lalu. Ketika orang tua saya di tugaskan mengajar di salah satu Kecamatan di Bengkulu Utara saat itu, di Kecamatan Kuro Tidur. Daerah ini merupakan salah satu tempat tujuan Transmigrasi orang-orang Jawa ke Sumatera, tidak heran nama Kecamatannya saja identik dengan bahasa jawa. Sempat tinggal dan besar disana selama 4 tahun, orang tua saya memutuskan pindah mengajar ke Sumatera Barat lagi. Nah, disana lah saya tumbuh besar dan dewasa, yang awalnya saya bisa bahasa jawa dan terbiasa dengan bahasa Indonesia, berubah dengan bahasa dan budaya minang yang kental. Salah satu alasan kenapa saya di beri nama “Wito” adalah hal tersebut.

Pertama kali ke Jawa...
Tanggal 20 April 2013 akhirnya menginjakkan kaki pertama kali di tanah Jawa, Yogyakarta. Senang, ternyata benar kebanyakan orang bilang, kalau anda takut tersesat ditanah jawa, coba perhatikan, kalau anda ketimur, kebarat, keutara dan keselatan masih ada yang menyapa anda dengan ramah dan hangat, ketahuilah anda masih ditanah Jawa. Benar juga ternyata, masyarakat disini sangat ramah.
Akan banyak cerita indah disini nantinya, semoga…….

Kamis, 21 Maret 2013

Lirik dan Chord Bob Marley Redemption Song

Bob Marley Redemption Song




Siapa yang ga tau Legenda reggae Bob Marley dengan "No women No Cry"nya, sedangkan Redemption Song adalah salah satu lagu peyemangat dan tidak bosan-bosan saya dengarkan.  Dengan musik Reggae yang sederhana tapi menyenangkan penuh makna dan enak didengar. 

Sepenggal liriknya “Emancipate Yourselves From Mental Slavery, NONE but Ourselves Can FREE Our Minds”. Yang kurang lebih kalo diterjemahin “Memerdekaan diri dari mental “budak”. Hanya kita yang bisa keluar dari perbudakan pikiran kita sendiri bukan orang lain. Dan bagaimana kita memotivasi dan berbicara pada diri kita sendiri. 

Bob Marley dikenal dengan lantang menyuarakan kebebasannya, freedom, motivasi, bangkit dan melawan berbagai penindasan. Tapi berbeda dengan lagu ini, dalam lagu ini musuh utamanya adalah diri kita sendiri, terkadang melawan diri sendirilah yang paling susah ketika down, motivasimu hilang, malas, jiwa yang labil dan bukanlah orang lain, But only ourselvesKarena lagu ini di tulis Bob Marley ketika dia dalam perjuangannya menghadapi penyakit kanker yang mengingatkan dia bahwa kematian sudah didepan mata.

Dan untuk mengalahkan musuh ini kita tidak bisa mengandalkan orang lain, tapi diri kita sendirilah yang bertanggung jawab melawannya. Sadar akan keadaan bahwa kita bukanlah korban atau budak atas pikiran diri sendiri, tapi kita punya kuasa atas apa yang ada pada diri kita sendiri.

Silahkan disedot gan Lirik dan chordnya, jangan lupa di klik Iklannya yooooo

Redemption Song

G                      Em Em7
Old Pirates, yes, they rob I.
C        G/B      Am
Sold I to the merchant ships
G                  Em      C         G/B        Am
minutes after they took I   from the bottomless pit.
G            Em Em7
But my hand was made strong
C      G/B           Am
By the hand of the Almighty.
G                   Em    C   Am7    D
We forward in this generation triumphantly.

(D)                G    C       D        G
Won’t you help to sing    these songs of freedom?
C     D        Em   C  D       G      C
Cause all I ever had,      redemption songs,
D       G      C D
redemption songs.

(D)   G                           Em Em7
Emancipate yourselves from mental slavery,
C          G/B          Am
None but ourselves can free our minds.
G                        Em
Have no fear for atomic energy,
C        G/B         D
Cause none of them can stop the time.
G                        Em Em7
How long shall they kill our prophets
C      G/B         Am
While we stand aside and look?
G              Em
Ooh, some say it’s just a part of it.
C         Am7         D
We’ve got to fulfill the book.

(D)                G    C       D        G
Won’t you help to sing    these songs of freedom?
C     D        Em   C  D       G      C
Cause all I ever had,      redemption songs,
D       G      C  D       G      C D
redemption songs, redemption songs.

Em  C  D  (4x)

(D)   G                           Em Em7
Emancipate yourselves from mental slavery,
C           G/B          Am
None but ourselves can free our minds.
G                Em
Woh, Have no fear for atomic energy,
C              G/B            D
Cause none of them-ah can-ah stop-ah the time.
G                        Em Em7
How long shall they kill our prophets
C      G/B         Am
While we stand aside and look?
G              Em
Yes, some say it’s just a part of it.
C         Am7         D
We’ve got to fulfill the book.

(D)                G    C       D        G
Won’t you help to sing    these songs of freedom?
C     D        Em   C  D       G
Cause all I ever had,      redemption songs,
C     D        Em   C  D       Em     C
All I ever had,      redemption songs,
D        G      C  D        G
These songs of freedom,  songs of freedom

C  Em  Am  D(II)





Kamis, 07 Februari 2013

Puncak SUMUT 28 Oktober 2012

Ditemani musik Reggae, ga tau tiba-tiba suka aja jenis musik ini, mumpung mood bagus, saya mulai merangkai cerita yang mungkin bisa saya bagi untuk Bloger sekalian, sudah lama ingin posting, tapi ga kesampaian menulis padahal sudah lebih 2 bulan setelah saya melakukan pendakian terakhir  gunung Sinabung. Perjalanan dimulai dari stasiun  SUTRA Simpang Pos medan, penumpang menuju Berastagi tanggal 27 Oktober itu sangat padat lantaran ada "Pesta Rakyat" begitu masyarakat Karo mengungkapkan, banyak masyarakat Karo dari berbagai daerah mudik ke Kampung halaman mereka. Sudah beberapa kali kami ngantri tapi selalu ga ada bangku kosong karna penumpang saling berebutan, saya dan Evil kawan baru yang saya kenal dengan rambut gondrongnya memutuskan naik diatas atap bus bersama kondektur bus dan beberapa laki-laki lainnya. Alhasil rambut panjang Evil tergerai indah akibat hembusan semilir angin di atas atap bus bak artis iklan shampo. Walaupun terkadang harus kucing-kucingan sama Polisi yang razia sepanjang perjalanan dengan menutup atap bus dengan terpal, sehingga ga ketahuan.


                                    
Pajak Berastagi

Setelah 2 jam perjalanan dari medan kami sampai di Berastagi, jalan ke pajak Berastagi naik angkot yang membawa kami ke kaki Gunung Sinabung Lau Kawar, Lau dalam bahasa Karo= air, sungai atau danau, yah danau kecil yang sangat indah yang akan terpampang di depan tenda kami nantinya, sembari menunggu angkot penuh kami sempat beli beberapa logistik makanan kopi ataupun gula di pasar ini. Satu jam perjalanan Berastagi ke Lau Kawar lagi-lagi kami bertengger di atap angkot, beberapa kilometer Lau Kawar gerimis datang menyambut kami. 





Tenda menghadap Lau Kawar nan Cantik


Sampai di Lau Kawar langsung bentangkan tenda dan didirikan pas didepan danau kecil yang indah dengan langit biru keemasan sunset disore itu. Tak kami lewatkan moment itu sedikitpun untuk sekedar mengambil foto keindahan alam ciptaan Tuhan.




Ocan, Saya (Lau Kawar)

Jam 8 malam setelah makan malam semua istirahat bersiap siap  melakukan pendakian, pendakian dimulai jam 11 malam mengingat malam itu sekitar 350 orang berusaha menggapai puncak Sinabung dengan tujuan yang sama memperingati sumpah pemuda, kami start duluan.

Setelah melapor pada petugas jaga / Tim SAR dan membayar uang Retribusi kami langsung berangkat untuk melakukan pendakian. Pertama tama kami melewati areal ladang sayuran sampai akhirnya tiba di Pintu Hutan Rimba. Dari sini track berikutnya adalah belantara tropis yang cukup segar dengan jalur setapak meliuk dengan tanah berlumpur yang langsung menuju puncak Gunung Sinabung.

Terdapat beberapa Shelter / Pos peristirahatan. Di Shelter / Pos peristirahatan ini memang tidak ada bangunan permanent yg dapat kita gunakan untuk berteduh dari hujan disaat musim penghujan (disarankan  membawa perlengkapan seperti Plonco / Raincoat / Tenda) Di sini pendaki dapat beristirahat melepas lelah sambil melihat pemandangan lepas ke bawah.
Akhirnya kami sampai di Shelter terakhir yg biasa digunakan untuk berisitirahat ada sebuah mata air yg biasa disebut Pos Pandan. Kami mengambil air secukupnya dengan kondisi yg cukup jernih. Kami beristirahat cukup lama di Pos Pandan untuk memulihkan stamina dan makan logistic yg dibawa karena setelah pos ini kita akan mulai memasuki trek bebatuan yg memiliki tingkat kecuraman sekitar 45 drajat, berhati-hati lah di cadas ini karena disini tidak banyak tempat untuk beristirahat.
Sesampainya di Puncak kita dapat memandang hamparan hutan di bawah dan apabila cuaca cerah disebelah Timur kita akan dapat melihat Bentangan Danau Toba, sedangkan sebelah Barat kita akan menyaksikan danau Lau Kawar beserta barisan hutan yg masih lebat ditumbuhi pepohonan. Kami sangat beruntung pagi itu kami di suguhi sunrise yang menakjubkan cuaca cerah seakan diatas awan karena disisi kiri dan kanan berarak awan di ketinggian sekitar 2467 Mdpl. 
Upacara memperingati sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 2012 pun dimulai dengan hidmat. Setelah upacara selesai dan merasa sudah cukup untuk mengambil Foto ataupun menikmati pemandangan di puncak kami turun dengan jarak tempuh yang lebih singkat. Dan bersiap-siap kembali lagi ke Medan. Pengalaman yang sangat menarik.


Cadas


Sunrise di 2467 Mdpl

2467 Mdpl

Upacara peringatan sumpah pemuda

mantap

Kamis, 10 Januari 2013


“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.. Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa..Keep our dreams alive, and we will survive..”
---- [5cm] ---

Rabu, 21 November 2012

Ketika Lelaki Menangis


Ketika Lelaki Menangis

Jika seorang lelaki menangis dihadapanmu,
Itu berarti dia tak dapat menahannya lagi.
Jika kamu memegang tangannya saat dia menangis,
Dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu.
Jika kamu membiarkannya pergi,
Dia tidak akan pernah kembali lagi menjadi dirinya yang dulu.
Selamanya….

Seorang lelaki tidak akan menangis dengan mudah,
Kecuali didepan orang yang amat dia sayangi. Dia menjadi lemah.
Seorang lelaki tidak akan menangis dengan mudah,
Hanya jika dia sangat menyayangimu, Dia akan menurunkan rasa egoisnya.

Wanita, jika seorang lelaki pernah menangis karenamu,
Tolong pegang tangannya dengan pengertian.
Dia adalah orang yang akan tetap bersamamu sepanjang hidupmu.

Wanita, jika seorang lelaki menangis karenamu.
Tolong jangan menyia-nyiakannya.
Mungkin karena keputusanmu, kau merusak kehidupannya.

Saat dia menangis didepanmu, Saat dia menangis karnamu,
Lihatlah matanya….
Dapatkah kau lihat dan rasakan sakit yang dirasakannya?
Pikirkan….

Lelaki mana lagikah yang akan menangis dengan murni, penuh rasa sayang,
Didepanmu dan karenamu……
Dia menangis bukan karena dia lemah
Dia menangis bukan karena dia menginginkan simpati atau rasa kasihan
Dia menangis,
Karena menangis dengan diam-diam tidaklah memungkinkan lagi.

Wanita
Pikirkanlah tentang hal itu
Jika seorang lelaki menangisi hatinya untukmu,
Dan semuanya karena dirimu.
Inilah waktunya untuk melihat apa yang telah kau lakukan untuknya,
Hanya kau yang tahu jawabannya….

Pertimbangkanlah
Karena suatu hari nanti
Mungkin akan terlambat untuk menyesal, Mungkin akan terlambat untuk bilang ‘MAAF’!!

 

Total Pageviews